Selasa, 06 September 2016

Resensi Landline karya Rainbow Rowell



Judul : Landline
Penulis : Rainbow Rowell
Penerjemah : Airien Kusumawardani
Penyunting : M. R. Prajna Pramudita
Proofreader : Titish A.K.
Designer cover : Chyntia Yanetha
Penerbit : Spring
Terbit : April 2016
Tebal : 372 hlm
Rating : 3.5/5


Mana yang akan kau pilih, jika dalam keadaan terdesak kau harus mengorbankan satu hal yang sangat kau cintai dalam hidup, mimpimu atau keluarga yang mendukungmu?

Georgie McCool sudah merintis karir kepenulisan cerita komedi sejak duduk di bangku kuliah. Di University of Los Angeles ia bergabung dengan majalah The Spoon.  Disana ia bertemu dengan Seth, penulis komedi tampan namun dikenal kocak dan senang bergonta-ganti wanita. Georgie hanya gadis biasa tapi Seth bisa melihat bakat yang dimiliki gadis itu. Karena hal itu juga yang membuat Seth tertarik dengan Georgie dan menjadikannya partner.


“Haruskah aku pura-pura bahwa semuanya baik-baik saja? Seperti yang kau lakukan? – Seth, hlm 320

Georgie selalu memperhatikan Seth, pria itu selalu terlihat bahagia, dikelilingi wanita-wanita cantik, selera humornya dan ia tampan. Tapi lama-kelamaan Georgie tahu Seth tidak memperhatikannya lebih dari seorang partner. Lantas Georgie mengahapus perasaan itu cepat-cepat dan menyadari ia menyukai seseorang yang lain.  Perasaannya justru berbalik kepada seorang pria yang menggarap komik strip kesukaannya, Neal.

Neal Grafton adalah salah satu mahasiswa dari jurusan oseanografi. Neal hanya mahasiswa biasa, dikenal pendiam dan  tidak ada yang tahu bahwa ia yang selama ini mengisi komik strip di majalah The Spoon. Georgie mengaguminya tanpa alasan yang berlebih. Ia terpesona dengan komik buatan Neal dan kini ia jatuh cinta padanya.


“Sungguh. Kau boleh memilikiku. Karena aku pintar dalam menginginkan berbagai hal dan pintar dalam mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku tidak bisa memikirkan apa lagi yang paling kuinginkan selain kau.” – Georgie, hlm 185
Tahun-tahun berlalu, Georgie berhasil mendapatkan hampir semua yang ia mau. Ia menikah dengan Neal lalu dikaruniai  dua anak perempuan yang lucu yang dinamai Allice dan Noomi. Ia masih bersahabat dengan Seth dan menjadi rekan menulis untuk sebuah acara tv. Ditambah acara Jeff’d Up berhasil mendapat hasil yang memuaskan. Tapi semua itu belum memuaskan hati Georgie. Ia masih ingin membuat acara tv yang dibangunnya sendiri bersama Seth. Itu sudah jadi impian mereka berdua sejak kuliah. Dan saat kesempatan itu datang Georgie dihadapkan pada pilihan yang sulit.

Maher Jafari tertarik untuk memakai acara komedi yang ditulis Georgie dan Seth. Hal itu menjadi kabar bahagia karena jalan menuju mimpi yang mereka akan terbuka. Tapi ada harga mahal yang harus ditebus untuk kebahagian itu. Georgie harus membatalkan kepergiannya ke Omaha-tempat yang semula sudah direncanakan untuk jadi tempat libur natal Georgie dan keluarga. Neal tidak senang dengan kabar itu, karena itu berarti Georgie tidak akan bersama mereka menghabiskan waktu bersama di Omaha. Dan Georgie akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama Seth yang berarti bukan pertanda baik.
Keputusan Georgie sudah bulat dan Neal tahu ia tidak bisa berbuat lebih untuk mengubah keputusan Georgie. 




“Kau bertanya kepadaku apa aku ingin mencoba mengubah sesuatu kalau aku bisa kembali ke masa lalu. Dan aku bilang kepadamu kalau aku mau-dan pasti melakukannya-tapi aku tidak memberitahumu.  Mungkin seharusnya keadaan tidak seperti ini” – Seth, 321


“Aku selalu memikirkan tentang pesta Halloween itu. Ketika Neal nertingkah sangat berengsek kepadamu? Dan kau memintaku untuk membawamu pulang, dan aku melakukannya. Dan aku-aku meninggalkanmu sendirian. Mungkin seharusnya aku tidak meninggalkanmu. Mungkin seharusnya aku tetap bersamamu.”

 “Mungkin seharusnya hubungan kita tidak seperti ini, Georgie.”

Buku ini punya tema yang sederhana mengenai kehidupan rumah tangga. Yang mana Georgie sebagai tokoh utama mendapatkan pilihan yang sulit untuk menentukan masa depan karirnya atau memilih bersama keluargnya. Georgie sudah menulis drama komedi sejak kuliah. Ia dikenal selalu berdua dengan Seth dan hingga masuk ke dunia kerja mereka masih tetap bersama. Mereka punya mimpi yang sama untuk membawa karirnya semakin tinggi di sebuah jaringan tv ternama. Dan saat mereka mendapat kesempatan itu tidak ada satu dari mereka yang ingin melepaskannya.

Seth yang paling bersemangat saat mendengar kabar episode pertama acara mereka menarik hati Maher Jafari. Ia tidak ragu untuk bertemu dengan keluarga Georgie terutama anak-anaknya untuk meyakinkan Georgie agar tidak pergi ke Omaha saat libur natal. Tapi tiket sudah di pesan dan atas pertimbangan yang berat Georgie tidak bisa ikut ke Omaha.

Sejauh ini konflik hanya sebatas itu saja. Georgie yang mendapati Neal tidak menghubunginya lagi setelah pergi ke Omaha membuatnya cemas. Pikiran-pikiran aneh tentang Georgie yang telah membuat Neal  kecewa tidak bisa dilenyapkan. Neal sudah berubah dan Georgie mulai dihantui pikiran buruk tentang ancaman yang  akan meretakkan rumah tangganya.

 Dikisahkan selepas Neal pergi, Georgie tinggal bersama ibu dan keluarganya di rumah lama. Tidak ada yang berubah dari rumah itu setelah Georgie meninggalkannya. Dan tepat dibawah tempat tidurnya, ia menemukan telpon rumah kuno berwarna kuning yang dulu digunakannya semasa pacaran.
Telpon itu semacam mesin waktu yang mampu membawa Georgie ke masa empat belas tahun yang lalu. Saat Georgie mencoba menelpon rumah keluarga Grafton di Omaha, telpon itu menyambungkan dirinya dengan Neal  yang dulu dikenalnya semasa pacaran. Neal yang masih memiliki ayah dan Neal yang dikenal nekad melintasi negara bagian hanya untuk melamar Georgie. 

Secara keseluruhan cerita di buku ini memakai alur maju. Dengan memakai POV orang ketiga penulis menarasikan awal kisah pertemuan  Georgie dan Neal hingga konflik yang mereka alami semasa pacaran. Butuh kesabaran yang cukup saat penulis mulai mendominankan narasi ketimbang dialog. Alur yang lambat juga menjadi alasan buku ini harus dinikmati pelan-pelan. Gaya bercerita si penulis sebenarnya menarik tapi karena porsi narasinya cukup banyak, pembaca harus ekstra sabar menyelami kisah masa lalu dua tokoh utamanya.

Saya acungi jempol untuk penerjemah yang berhasil mengeksekusi buku ini jadi menarik dan nyaman dibaca. Saya akui gaya bercerita Rainbow Rowell di buku ini sedikit sulit dipahami. Ia sering memasukkan metafora dan mengaitkan bermacam hal dalam narasi ceritanya. Tapi buku ini berhasil membuat saya menikmati ceritanya. Kalau boleh saran, buku terbitan Spring berikutnya bisa ditingkatkan kualitas lembar kertasnya. Karena saat membaca, saya sedikit tidak nyaman dengan tulisan berbayang di tiap belakang halamannya. Semoga hal ini bisa di atasi.

Untuk kesan pertama membaca buku Rainbow Rowell, saya berikan 3.5 untuk Neal yang sangat cute dan bikin hati berbunga-bunga.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Yeah, sudah baca buku Rainbow Rowell yang lain belum? Penasaran sama attachments deh *tos back*

      Hapus

Appeciate with my pleasure.

~ VS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...