Kamis, 04 Februari 2016

Resensi Buku: Merpati Tak Pernah Ingkar Janji | Sampai Maut Memisahkan Kita


Judul : Merpati Tak Pernah Ingkar Janji | Sampai Maut Memisahkan Kita

Penulis : Mira W

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit: 2015

Rating : 3/5
 
Buku ini termasuk dalam edisi spesial 40 Tahun Mira W berkarya. Dalam satu buku terdapat dua cerita yang memiliki ikatan tema yang serupa.

Merpati Tak Pernah Ingkar janji bercerita tentang Maria, anak tunggal dari mantan pastor yang kini dipanggil Romo. Maria hidup berdua dengan sang ayah setelah ibunya meninggal tepat saat Maria dilahirkan. Saat hari kelahirannya Maria telah di janjikan untuk dipersembahkan kepada Tuhan sebagai bentuk penyesalan sang ayah atas masa lalunya. Janji itu bagaimana pun harus ditepati sebesar apapun rintangan yang harus dihadapi Maria nantinya.

Setelah habis cerita, kisah berlanjut pada hubungan percintaan Febrian dan Inge dalam Sampai Maut Memisahkan Kita. Kesalahan Febrian yang membuat Inge hamil di luar nikah terus membuntutinya. Beban pikiran Febrian semakin berat saat mengetahui janin yang ada di perut Inge tidak bisa di gugurkan. Jalan lain yang harus dipilih Febrian adalah dengan menikahi Inge.

Tidak lama, hubungan dua sejoli itu membuahkan seorang anak. Bukan kebahagiaan, justru kehadiran bayinya turut menambah beban pikiran Febrian. Siapa yang tidak sedih jika mendapati buah kebahagiaan mereka terlahir tidak sempurna? Cacat secara fisik dan menambah kekhawatiran kedua orang tua. Febrian justru malah meningglkan rumah tangganya yang terancam akan bercerai dan melanjutkan kuliah di negeri Paman Sam. Disana Febrian bertemu dengan wanita yang kembali membangkitkannya dari penyakitnya, Angela. Namun sejauh apapun kaki melangkah pergi ia sadar belum mampu meninggalkan isterinya dan anaknya yang cacat. Febrian kini harus memilih dari dua pilihan yang ada, kembali pada Inge atau melanjutkan jalinan cinta bersama Angela.

***

Sebagai buku pertama yang mengenalkanku pada gaya bercerita seorang Mira W, buku ini cukup mengesankan tapi tidak memesona hingga membuat hatiku terhipnotis dengan daya pikatnya.

Mira menuturkan dua jalinan kisah yang berbeda tentang kehidupan remaja dan sebuah cinta segitiga yang pelik. Sosok Maria menjadi sentral sebuah pengekangan anak atas orang tua. Febrian sebagai sebuah simbol kebebasan yang terhalang sebuah tanggung jawab. Dua tokoh ini hadir dengan atmosfer cerita yang berbeda dengan intrik masalah masing-masing yang disebabkan masa lalu mereka.

Maria, seorang anak tunggal dari mantan pastor yang terkenal ortodoks, disiplin dan kuat pendirian. Jiwa religius yang melekat padanya tidak jua luntur meski ia telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pastor. Romo, mendidik Maria seorang diri dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dengan cara yang keras dan tidak kenal ampun, ia menjauhkan Maria dari kehidupan sosial agar menjaga anaknya tetap suci saat diserahkan pada Tuhan. Namun, saat usia Maria menginjak 15 tahun Romo berubah pikiran dan memasukkan Maria kedalam sekolah khusus putri. Disana godaan dan cobaan telah menunggu gadis itu.

Walaupun saat pertama kali masuk sekolah Maria mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, Maria mampu melewati masa itu dan terbiasa dengan tingkah teman sekelasnya. Sebenarnya sedikit mengherankan awalnya aku mengira Maria akan mendapat bully yang terus berlanjut dan dikerjai gadis-gadis di sekolah, tapi Maria seketika menjadi populer setelah menjadi striker yang handal di tim volley sekolahnya.

Banyak hal-hal yang terkesan dipaksakan dan malah tidak logis terutama di awal pertemua Maria dengan Guntur. Awal ketertarikan Guntur pada Maria tidak dijelaskan, seorang pria tertarik untuk melihat kaki seorang gadis. Mungkinkah hal itu menjurus ke hal-hal yang bersifat sensual? Entahlah, tapi aku mulai tidak berandai-andai bagaimana kelanjutan kisah Maria ini.

Dari segi penokohan, penulis menggambarkan karakternya dengan sealami mungkin. Sifat remaja yang bebas, centil, ceplas-ceplos terwakili dalam teman-teman Maria. Karakter Maria tidak banyak perubahan. Ia tetap pemalu, polos dan selalu merasa rendah diri. Sifat terakhirlah yang membuat cerita ini tidak berkembang dengan baik. Tapi karena kepolosannya jugalah yang membawa gadis itu pada masalah lainnya, ia mulai meragukan pilihannya untuk menjadi biarawati selepas dari SMA. Selain itu Ia juga mulai merasakan ‘rasa’ yang tidak biasa pada Guntur. Jujur saja aku pun bingung bagaimana penulis merangkai hubungan Maria dengan Guntur, begitu juga dengan bagaimana ketertarikan diantara mereka mulai bersemi. Ah, rasanya ingin berhenti saja saat membaca kisah Maria ini. Endingnya juga tidak sesuai anganku, mengecewakan.

‘Jadi hanya seperti itu?’ tanyaku dalam hati saat kisah Maria sudah mencapai akhir halaman.

Sebagai cerita pembuka, Merpati Tak Pernah Ingkar Janji bisa dibilang tidak memuaskan untukku. Tapi pesan yang diangkat penulis sangat menggugah. Tentang bagaimana seseorang memegang prinsip dan ketaatannya pada yang Maha Kuasa. Mengingat latar yang dipakai penulis berada di Jakarta, orang-orang yang kolot dan tertutup seperti Maria dan ayahnya pasti akan mendapat pertentangan dari lingkungan sekitarnya. Cerita yang menarik untuk kamu pembaca yang sedang mencari kisah romansa lama.

Sampai Maut Memisahkan Kita, kisah kedua yang juga kaya makna dari Mira W. Kali ini menggunakan karakter utama pria bernama Febrian.Hubungan percintaannya kian rumit setelah ia sadar ia masih terikat dengan Inge dan sang anak.

Kuakui aku lebih menikmati cerita Sampai Maut Memisahkan Kita. Konfliknya lebih terasa dan penuturannya tidak terlalu bertele-tele. Alurnya pun lebih mudah dipahami. Yah, cukup memuaskan untukku. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Appeciate with my pleasure.

~ VS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...