Minggu, 31 Januari 2016

Tell Your Father, I am Moslem - Hengki Kumayandi


Judul : Tell Your Father, I am Moslem
Penulis: Hengki Kumayandi
Penerbit : WahyuQolbu
Penyunting : Mashur El-Mubarok
Penata letak : Tri Indah Marty
Desainer sampul : Kiki Maryana
Terbit : Januari 2014
Tebal : 259 hlm
ISBN : 979-795-812-4
Rating: 4/5


“Apakah Muslim dan Nasrani itu tidak bisa saling mencintai, Ayah?”

Rushel menemukan seorang bayi di muka pintu gereja. Seseorang telah meninggalkannya disana dan tak kunjung kembali untuk mengambilnya. Ia membawanya masuk dan menamainya David Stuart. Bayi laki-laki itu tumbuh menjadi seorang pria yang tampan dan disenangi teman-teman disekolahnya. David juga mendapat kasih sayang yang cukup dari Pastor Rushel dan biarawati yang tinggal di gereja.  

Sampai tiba suatu hari ia bertemu dengan seorang murid baru sekolahnya, seorang gadis muslim yang sangat jelita. Gadis itu begitu memikat hati dan hanya dengan melihatnya David merasakan hal yang berbeda pada gadis itu, pada perasaannya. David menyadari selama ini ia tidak merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Maryam, gadis itu yang mampu membuatnya bahagia dan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Maryam terpaksa harus mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai Duta Besar Uni Emirat Arab untuk tinggal di Amerika. Sebenarnya Maryam tidak ingin untuk ikut, tapi mengingat betapa kerasnya pendirian sang ayah ia merasa tidak punya pilihan untuk menolak. Ayahnya mendidik Maryam dengan nilai-nilai islam yang kuat.  Segala hal yang menyangkut urusan anak semata wayangnya menjadi tanggung jawabnya termasuk urusan berhubungan dengan lawan jenis. Salah berbuat sedikit akan menimbulkan dosa. Tapi apakah sang ayah akan terus mengekang sang anak? Ayah Maryam tidak pernah berpikir bagaimana jadinya jika Maryam akan jatuh cinta pada seseorang pria yang bukan berasal dari kaumnya.

Hari pertama bersekolah di sekolah umum di Amerika menjadi tantangan besar untuk Maryam. Seluruh siswa di kelasnya menuduh dirinya sebagai teroris dan dianggap akan mengancam keamanan sekolahnya. Hanya ada satu murid pria yang mau tetap masuk ke kelasnya dan mempercai dirinya, priaitu bernama David Stuart. Hati Maryam seketika luluh saat mengetahui David membelanya di depan teman-temannya dan meyakinkan bahwa Maryam bukan seorang pembawa teror. Dengan senang hati David juga menawarinya makanan saat istirahat. Tapi Maryam tidak bisa berbuat apapun, bahkan untuk menatap David pun ia tidak sanggup. Perasaan takut akan bedosa yang menahan dirinya untuk tidak mengakui bahwa Maryam telah jatuh cinta pada David.


“Aku mencintaimu. Apakah juga butuh waktu empat puluh tahun bagi Tuhanmu untuk mengampunimu jika aku mencintaimu? – David

Perasaan cinta diantara mereka tumbuh dan berkembang dengan sangat cepat. Bahkan dengan keislaman yang dimiliki Maryam tetap tidak mampu membendung perasaan cinta yang gadis itu pendam sejak pertama kali bertemu dengan David. Walau adanya perbedaan keyakinan yang dimiliki keduanya, Maryam tetap menerima cinta David dan menjadi sepasang kekasih dengan syarat pria itu tidak boleh menyentuhnya.

Hari berikutnya hubungan keduanya berjalan semakin indah. David dengan sabar menyakinkan dirinya untuk tidak menyentuh Maryam dan senantiasa menjaga gadis itu. Hanya satu yang mengusik hubungan keduanya yaitu keberadaan ayah Maryam yang tidak senang dengan keberadaan David.

Tidak butuh waktu lama sang ayah dapat mengendus hubungan David dan Maryam. Kemudian Maryam dipindahkan kesekolah muslim untuk menjauhkan hubungan keduanya. Tapi dengan usaha keras meyakinkan sang ayah Maryam berhasil kembali ke sekolah sebelumnya. Namun ada konsekuensi yang harus diterima keduanya, Maryam dan David tidak akan bisa saling berbicara lagi. Tapi ternyata menahan kerinduan itu sangat menyakitkan. Perlahan kerinduan diantara mereka  semakin menyiksa. Hingga tiba suatu malam Davidmelakukan sebuah tindakan nekad dan hal itu mengancam putusnya hubungan David dan Maryam.

Akankah hubungan berbeda keyakinan mampu dipertahankan? Buku ini akan membawamu pada sisi terdalam ironi cinta.


“Pujilah nama Tuhan, Nak. Berdoalah padaNya. Mintalah pada Dia agar melepaskan rasa cintamu itu pada Maryam. Dia bukan untukmu.” – Pastor Rushel
“Cinta kita mungkin salah,Maryam. Tapi Tuhan telah menumbuhkan cinta ini begitu dalam padamu. Aku akan mencoba mengerti dan menerima bahwa kita tidak bisa bersatu.” - David

***

Buku dengan konflik yang dalam untuk sebuah kisah cinta remaja, begitulah kesan saat membaca di awal cerita. Saat pertama memutuskan membaca kisah Maryam dan David, aku tidak menyangka buku ini akan bercerita kisah cinta beda agama dari sudut mata remaja. Kesannya memang terlalu dipaksakan tapi buku ini benar-benar mengkaitkan kisah antar tokohnya dengan kenyataansaat ini.

Pembaca akan di minta mengakui bahwa cinta pada pandangan pertama memang benar ada. Si penulis menyatukan kedua tokoh utama dengan cara yang indah, lewat sebuah pemahaman bahwa tidak seharusnya menilai seseorang dari tampilan luarnya saja. Sebuah pemahaman yang masih sulit ditemukan di masa seperti ini.

Yang aku sukai dari buku ini adalah cara penulis menyeimbangkan pandangannya tentang kedua agama yang dianut tokoh-tokoh didalamnya. Penulis bersikap netral dengan menunjukkan nilai-nilai dan beberapa kesamaan yang dimiliki kedua agam tersebut. Tidak ada agama mana yang ditonjolkan, jadi buku ini bisa dibaca oleh kalangan manapun tanpa menyinggung keyakinan masing-masing.

Hal lainnya yang membuat buku ini sangat menarik untuk dibaca adalah perjuangan kedua tokoh utama dalam mempertahankan hubungan mereka. Mulai dari penentangan dari pihak keluarga dan ketidak pastian hubungan keduanya di usianya yang masih remaja.  

Fokus cerita dalam buku ini adalah pada konflik perasaan Maryam dan David dalam menjalani hubungan mereka dan peran orang-orang terdekat dalam lika-liku hubungan keduanya. Tokoh yang sangat berpengaruh dalam cerita ini adalah ayah dari Maryam. Ayah Maryam yang sangat otoriter dan menjunjung tinggi agama mendidik Maryam dengan pengekangan. Saat mengetahui Maryam menjalin hubungan dengan David ia segera menjodohkan Maryam dengan Khaled.



“Jika kau berkenan menjodohkanku dengan Maryam, tumbuhkanlah benih cinta di hati Maryam untukku, yang tidak melebihkan cintanya padaMu. Tapi jika dia bukan untukku, buat hatiku ikhlas untuk melepaskannya” – Khaled

Tapi sesempurna apapun tokoh yang bermain di dalamnya, buku ini masih perlu mendapat koreksi yang penting.  

Buku ini lebih dominan memakai narasi untuk menceritakan isinya. Pemilihan diksi untuk dialog maupun narasi didalamnya sering kali terasa tidak pas. Hal itu malah membuat sentuhan rasa sedih buku ini kurang maksimal. Kesan yang didapat saat membaca buku ini menjelang pertengahan buku mulai terasa membosankan karena kedua tokoh utama lebih banyak melakukan telling ketimbang showing.  Aku juga merasakan upaya penulis membangun kedekatan emosional diantara tokoh utamanya sangat kurang. 

Usaha si penulis untuk membangun kesan sedih dan tertekan dalam cerita sudah seharusnya di acungi jempol. Tapi bagaimana jika pembaca terus disuguhi alur cerita yang melulu berisi ironi? Tentu pembaca akan terganggu bahkan mungkin bosan. Perlu lebih diperhatikan bagaimana cara mempermainkan emosi pembaca dengan tidak melulu bercerita tentang kesedihan.

Jujur saja menemukan buku dengan tema mengangkat cinta beda agama dan menggunakan sudut pandang netral dalam bercerita sangat sulit. Buku yang penuh nilai toleransi dan arti sebuah keluarga dalam mengajarkan anak sebuah prinsip keterbukaan. Tidak selamanya orang tua adalah benar dan sistem mengekang anak adalah cara yang salah jika itu dimaksudkan untuk mendidik seorang anak.

Banyak sekali pengetahuan baru yang bisa di dapatkan dari buku ini. Selain itu kutipan dalam buku ini cukup menyindir kehidupan beragama masa modern dan bisa menjadi bahan introspeksi diri. Bagaimana seseorang bisa salah mengartikan sebuah agama hingga akhirnya menciptakan diskriminasi bahkan memicu perang.

“Tuhan dimana keadilanMu? Kenapa si Amerika ini harus jatuh cinta pada gadis berkerudung itu? Sebegitu berbedanya kah kami? Lalu kenapa kau menciptakan Amerika dan Arab, Islam dan Katolik? Apakah agar kami bermusuhan? Tidak bisakah ini dibuat sederhana? Tidak bisakah kau menyatukan kami dengan cinta? Tidak bisakah?

Untuk akhir kata, aku sangat menyukai novel ini. Kalau kalian punya kisah cinta yang mungkin hampir sama dengan Maryam dan David, boleh kok tinggalkan ceritamu di kolom komentar di bawah ini. :)  

Aku ingin selalu mencintaimu
Meski perbedaan menghalangi kita
Meski kita tak akan bisa saling memiliki
Dan meski raga ini telah menjadi milik orang lain.
- Maryam







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Appeciate with my pleasure.

~ VS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...