Halo, masih setia mampir ke Booch Consultant kan ya? Karena disini kalian bisa nemuin berita dan kabar menarik soal buku dan penulis yang sayang banget untuk dilewatkan.
Di postingan kali ini saya akan menyajikan tanya penulis bersama Tere Liye saat bedah buku
Pulang di Islamic Book Fair (6/3) beberapa waktu lalu. Bedah buku ini dipandu oleh seorang host bernama Jaka Lelana dan disiarkan langsung oleh radio Sindotriwijaya FM. Jadi selain bisa datang langsung ke Istora Senayan pembaca yang tidak bisa datang bisa mendengarkan tanya jawab dengan Tere Liye melalui siaran radio.
Kalau kalian belum pernah baca buku Pulang, kalian bisa baca resensi yang sudah pernah saya tulis
di sini.
Di bedah bukunya,
bang Tere mengatakan bahwa novel Pulang punya dua premis. Pertama, setiap orang
pasti memiliki masalah dalam hidupnya. Contohnya sakit hati, bertengkar dengan
teman atau orangtua, di khianati, sakit
hati atau bertepuk sebelah tangan. Tapi diluar itu kita punya sesuatu yang
menarik untuk dipikirkan. Di novel ini punya masalah tersendiri yaitu definisi
dari ‘Pulang’.
Premis yang kedua adalah
tentang ‘apakah semua orang berhak untuk pulang?’. Tapi bukan arti pulang
secara fisik, namun definisi pulang yang lebih hakiki yaitu pulang untuk
menemukan hakikat kejelasan dalam hidup masing-masing.
Tere liye
berusaha menggarap premis tersebut menjadi kisah yang menarik dengan membangun setting yang dekat dengan passion yang ia
kuasai seputar dunia ekonomi. (karena aslinya Tere Liye adalah seorang
akuntan). Hal ini mennjawab dengan jelas mengapa ia terlihat menguasai hal-hal yang berkaitan dengan
dunia shadow economy di novelnya.
Penulis yang
punya nama asli Darwis ini mengatakan bahwa dunia shadow economy yang terjadi
di dalam novel memang benar terjadi di dunia nyata. Bab pembuka yang melibatkan
perburuan babi hutan di pedalaman Sumatra juga sudah disengaja untuk membuat
cerita semakin kompleks. Bahkan bang Tere sempat ingin memberi judul pada novel
ini menjadi ‘Babi Hutan’. Tapi tentu saja ia membatalkannya dan memilih judul
Pulang untuk menarik perhatian pembaca.
Tere Liye juga mengaku
menulis novel Pulang tidak sesulit saat beliau menulis novel Rindu. Ia bisa membuat
cerita lebih berkembang dengan memasukkan setting tempat yang beragam,
contohnya ketika Bujang pergi ke Hongkong, lalu lari ke Filipina dan kembali
lagi satu tempat ke Indonesia. Ia juga memasukkan ‘pemanis’ dan twist cerita
lewat kisah roman Ayah dan Ibu Bujang yang mendapat penolakkan karena perbedaan
masa lalu mereka.
Tidak hanya membahas ringkasan proses menulis, ada sesi tanya jawab untuk pengunjung yang sudah hadir lho. Penasaran apa aja sih yang pembaca tanya ke bang Tere bahas di book fair kemarin? Sekarang mari kita simak Ask Author edisi Tere Liye dan kisah di balik proses penulisan novel Pulang.
Enjoy :)