Tampilkan postingan dengan label writing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label writing. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Mei 2017

KIAT-KIAT MENULIS KREATIF BERSAMA NOVELIS TERNAMA



Bersama ;
Robin Wijaya
Eka Y Saleem
Helvi Tiana Rosa

Acara berbasis seminar ini adalah yang pertama kali kuikuti selama menjadi mahasiswi. Pusdima FIS UNJ adalah organisasi dibawah naungan BEM Fakultas Ilmu Sosial UNJ yang bergerak dibidang kepenulisan, penelitian dan pengembangan. Terdapat tiga divisi yang ada di dalam struktur Pusdima salah satunya adalah divisi penulisan.

Divisi kepenulisan bergerak dibidang karya tulis baik berupa liputan, opini, karya sastra puisi, cerpen dan lainnya. Ketua divisi ini memiliki kecenderungan menulis karya ilmiah dan opini. Tapi hal itu tidak membuat divisi penulisan terbatas pada karya-karya tulis yang serius. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kegiatan Seminar Kepenulisan. Inilah yang aku ikuti beberapa waktu lalu dan mempertemukanku dengan penulis-penulis hebat.

Mengusung tema "KIAT-KIAT MENULIS KREATIF BERSAMA NOVELIS TERNAMA" aku datang menuju tempat acara seusai mata kuliah. Aku berhasil keluar ruangan lebih cepat, Pada saat iu baru selesai UTS dan pikiranku sedang melalangbuana entah kemana. Di hari kesembilan bulan Mei ada sejumalh acara yang diadakan bersamaan. Awalnya sempat bingung ingin menghadiri yang mana dulu. Di jam yang sama ada talkshow yang merupakan rangkaian pengenalan pers bagi kaum muda. Belum juga memantabkan hati salah seorang temanku mengajak untuk ke acara yang diadakan oleh BKKBN dan yang cukup menggoda kala itu disana disediakan goodie bag dan cemilan. Diriku seperti berada diantara tiga pria menggoda yang menarikku tak tentu arah. 

Selepas keluar kelas aku hanya mengikuti kemana kakiku membawaku. Rupanya ia mengarahkanku ke seminar kepenulisan itu. Aha, semoga belum terlewat jauh itu yang ada dalam benakku. Lalu disanalah aku, di dalam ruangan yang seperti auditorium dengan dinding keramik berwarna cokelat dan disinari sorot lampu kaca. Ini kisahku. 

***


Selasa, 26 Juli 2016

[Ask Author] With Tere Liye - Pulang



Halo, masih setia mampir ke Booch Consultant kan ya? Karena disini kalian bisa nemuin berita dan kabar menarik soal buku dan penulis yang sayang banget untuk dilewatkan. 


Di postingan kali ini saya akan menyajikan tanya penulis bersama Tere Liye saat bedah buku Pulang di Islamic Book Fair (6/3) beberapa waktu lalu. Bedah buku ini dipandu oleh seorang host bernama Jaka Lelana dan disiarkan langsung oleh radio Sindotriwijaya FM. Jadi selain bisa datang langsung ke Istora Senayan pembaca yang tidak bisa datang bisa mendengarkan tanya jawab dengan Tere Liye melalui siaran radio.

Kalau kalian belum pernah baca buku Pulang, kalian bisa baca resensi yang sudah pernah saya tulis di sini.



Di bedah bukunya, bang Tere mengatakan bahwa novel Pulang punya dua premis. Pertama, setiap orang pasti memiliki masalah dalam hidupnya. Contohnya sakit hati, bertengkar dengan teman atau orangtua,  di khianati, sakit hati atau bertepuk sebelah tangan. Tapi diluar itu kita punya sesuatu yang menarik untuk dipikirkan. Di novel ini punya masalah tersendiri yaitu definisi dari ‘Pulang’.

Premis yang kedua adalah tentang ‘apakah semua orang berhak untuk pulang?’. Tapi bukan arti pulang secara fisik, namun definisi pulang yang lebih hakiki yaitu pulang untuk menemukan hakikat kejelasan dalam hidup masing-masing.  

Tere liye berusaha menggarap premis tersebut menjadi kisah yang menarik dengan membangun  setting yang dekat dengan passion yang ia kuasai seputar dunia ekonomi. (karena aslinya Tere Liye adalah seorang akuntan). Hal ini mennjawab dengan jelas mengapa ia terlihat menguasai hal-hal yang berkaitan dengan dunia shadow economy di novelnya.

Penulis yang punya nama asli Darwis ini mengatakan bahwa dunia shadow economy yang terjadi di dalam novel memang benar terjadi di dunia nyata. Bab pembuka yang melibatkan perburuan babi hutan di pedalaman Sumatra juga sudah disengaja untuk membuat cerita semakin kompleks. Bahkan bang Tere sempat ingin memberi judul pada novel ini menjadi ‘Babi Hutan’. Tapi tentu saja ia membatalkannya dan memilih judul Pulang untuk menarik perhatian pembaca.

Tere Liye juga mengaku menulis novel Pulang tidak sesulit saat beliau menulis novel Rindu. Ia bisa membuat cerita lebih berkembang dengan memasukkan setting tempat yang beragam, contohnya ketika Bujang pergi ke Hongkong, lalu lari ke Filipina dan kembali lagi satu tempat ke Indonesia. Ia juga memasukkan ‘pemanis’ dan twist cerita lewat kisah roman Ayah dan Ibu Bujang yang mendapat penolakkan karena perbedaan masa lalu mereka.
Tidak hanya membahas ringkasan proses menulis, ada sesi tanya jawab untuk pengunjung yang sudah hadir lho. Penasaran apa aja sih yang pembaca tanya ke bang Tere bahas di book fair kemarin? Sekarang mari kita simak Ask Author edisi Tere Liye dan kisah di balik proses penulisan novel Pulang.
Enjoy :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...