Tampilkan postingan dengan label Robert Galbraith. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Robert Galbraith. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2016

Wishful Wednesday - Career of Evil by Robert Galbraith [9]


Judul : Career of Evil
Penulis : Roberth Galbraith
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 552 hlm
Ukuran : 15 x 23 cm
ISBN : 978-602-03-2636-8
Harga : Rp. 178.000,00

Sinopsis

Sebuah paket misterius dikirim kepada Robin Ellacott, dan betapa terkejutnya dia ketika menemukan potongan tungkai wanita di dalamnya.

Atasan Robin, detektif partikelir Cormoran Strike, mencurigai empat orang dari masa lalunya yang mungkin bertanggung jawab atas kiriman mengerikan itu—empat orang yang sanggup melakukan tindakan brutal.

Tatkala polisi mengejar satu tersangka pelaku yang menurut Strike justru paling kecil kemungkinannya, dia dan Robin melakukan penyelidikan sendiri dan terjun ke dunia kelam tempat ketiga tersangka yang lain berada. Namun, waktu kian memburu mereka, sementara si pembunuh kejam kembali melakukan aksi-aksi yang mengerikan…

Career of Evil adalah kisah misteri yang cerdas dengan pelintiran-pelintiran tak terduga, dan menceritakan bagaimana kedua tokohnya, Cormoran Strike dan Robin Ellacott, berada pada persimpangan penting dalam kehidupan pribadi dan profesional mereka.

ROBERT GALBRAITH adalah nama alias J.K. Rowling, pengarang serial Harry Potter dan The Casual Vacancy. Career of Evil buku ketiga serial Cormoran Strike, setelah sebelumnya terbit The Cuckoo’s Calling dan The Silkworm.

Karya seorang jago cerita mahir.
—Daily Telegraph


Kabar gembira untuk penikmat karya Robert Galbraith di Indonesia! Buku ketiga seri Cormoran Strike akhirnya segera diterbitkan. Setelah menunggu lamaaa sekali dari jeda buku kedua, akhirnya Career of Evil diterbikan dengan wajah sampul yang sama dengan aslinya.
Di balik kecintaan orang-orang pada buku berseri, ada sejumlah pihak yang mencari keuntungan untuk meraup pendapatan sebesar-sebesarnya. Ini juga yang diterapkan penerbit major GPU untuk buku terjemahan keluaran tahun 2016. Pembaca yang menantikan Career of Evil ketiban sial dengan adanya kenaikan harga buku ini. Tidak nanggung-nanggung, dibanding buku sebelumnya buku ketiga ini harga yag dipatok naik sampai 40% bahkan lebih. Antara harga asli dengan harga buku terjemahannya pun tidak berbeda. 

Rasanya harga buku yang segitu dengan edisi buku yang biasanya hanya berupa paperback rasanya tidak rasional mematok harga sampai selangit begitu. Buku dijadikan bulan-bulanan permainan harga oleh penerbit yang bisa ditebak hanya untuk menambah pundi-pundi segelintir pihak.

Kenaikan harga juga terlihat jelas pada buku Ugly Love. Buku ini terbit selang beberapa bulan saja dari Maybe Someday. Dilihat dari keteblan bukunya sepertinya sama, tapi selisih harga cukup besar hingga 20 ribu. Bagaimana pun konsumen pasti sadar Kalau mau membandingkan).

Back to first, Career of Evil mendapat respon yang baik dari pembaca luar dan diperkirakan akan mendapat respon sama baiknya di dalam negeri. Tapi konsumen saat ini sudah sangat jeli memilih buku. Dengan harga yang dikeluarkan sebesar itu apa kelebihan yang akan didapat nantiya. Jangan sampai sia-sia mengeluarkan banyak hal tapi yang didapat tidak ada bedanya dari segi kualitas output dan percetakannya.
Buku ini memang pantas dinantikan, tapi pikirkan matang-matang jangan memaksakan diri setelah melihat digit nomor yang ada pada kolom harganya. 

Meskipun terling mahal, aku berharap sekali bisa baca buku ini. Habis sudah menunggu lama, masa aku lewatkan begitu saja? No xD
Niattnya, aku akan hadir di acara launching novel ini jika benar akan diadakan oleh GPU. Apakah akan ada launching "Career of Evil nantinya"? Let's see.




Sabtu, 17 Januari 2015

Resensi Buku: The Silkworm 'Ulat Sutra' (#2) - Robert Galbraith






Judul               : The Silkworm ‘Ulat Sutra’
Penulis            : Robert Galbraith
Penerjemah    : Siska Yuanita
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : Cetakan pertama, 2014
Tebal               : 536 halaman
Rate                : 4/5
                          




“ Satu-satunya yang pernah dia beritahu padaku tentang Bombyx Mori adalah bahwa ulat sutera merupakan metafora untuk si penulis, yang harus melalui berbagai penderitaan untuk mendapatkan barang bagus. Hanya itu.” 
-The Silkworm ‘Ulat Sutra’, hlm.370




Berawal dari kehidupan seorang detektif partikelir bernama Cormoran Strike yang bekerja di lingkungan Denmark Street, yang mendapati kedatangan seorang wanita berumur lima puluh tahun benama Leonora Quine yang membutuhkan jasanya untuk menemukan suaminya yang telah menghilang secara misterius setelah pertengkaran hebat mereka terjadi.
Dimata Leonora, Owen adalah pria emosional dengan beragam sifat buruk. Lebih dari itu Owen adalah novelis dibawah naungan penerbitan Roper Chard yang memiliki gaya penulisan yang eksentrik dan menggunakan banyak metafora. Sampai suatu hari hasil mahakaryanya dihujat habis-habisan oleh orang-orang disekitarnya.

Strike memulai mengumpulkan keterangan dari Leonara dan berhasil mendapatkan sebuah kunci rumah yang pernah diwarisi kepada Quine dan dan sahabatnya dulu. Mengerikan dan penuh dengan kebencian. Bukan apa yang ada didalam rumah itu tetapi target yang ia cari behasil didtemukan. Dalam bentuk mayat sang novelis sudah terbunuh dengan cara yang tidak pantas tergantung dilangit-langit kamar yang akhirnya meninggalkan sejuta pertanyaan.
Kematian Owen Quine kini memaksa Srike untuk menelusur lebih dalam mengenai kronologi kematian dari awal. Para rekan dikalangan penerbit menjadi sasaran utama penyelidikan. Namun kasus ini malah terasa janggal setelah para tersangka yang diduga terlibat member pengakuan secara sukarela. Semua orang memainkan perannya masing-masing.
Serangkaian aksi detektif bersama Robin si asistennya menjadikan novel terakhir Owen Quin “Bombyx Mori” sebagai penunjuk arah kasus kematian ini. 



Setelah satu tahun berlalu Robert Galbraith kembali memenjelma dengan karya keduanya setelah ‘The Cuckoos’s Calling’ sukses memikat para pembaca dunia. Galbraith mengisahkan seri keduanya ini dengan berbagai intrik para tokoh yang terlibat didalamnya. Cara kepenulisannya yang logis membuat saya mudah untuk memahami jalan ceritanya. 


Gaya Bahasa

Tidak diragukan lagi buku ini sangat direkomendasikan untuk para pembaca dengan penggunaan bahasa yang sederhana membuat kisah misteri ini mudah diikuti. Pembaca lainnya diharapkan berhati-hati dalam mengikuti kisah ini karna diberbagai titik cerita terdapat petunjuk dari siapa tokoh pembunuhan yang sebenarnya.

Penokohan

Penggambaran karakter pada masing-masing tokoh terasa kuat dan tidak terduga. Cormoran Strike dijelaskan sebgai seorang pria penggerutu yang hidup dalam kesendiriannya di flat beserta segala keterbatasan yang ia miliki. Jauh dari keluarga dan belum bisa melepaskan cinta masa lalunya. Disi lain sang detektif memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap tugasnya.
Tokoh lainnya yang banyak mengisi cerita ini adalah seorang wanita bernama Robin Venetia. Dialah asisten setia Strike dengan beragam dilema yang ia pendam dalam dirinya. Di berbagai kesempatan yang berbeda Robin membantu mengumpulkan keterangan dan menjadi pahlawan disaat genting sekalipun. Tetapi sepertinya Strike masih belum bisa memalingkan perasaannya untuk wanita yang satu ini.


Latar

Galbraith menggambarkan tata letak kota London dengan apik dan membawa saya terhanyut dalam pergerakan kisahnya yang seringkali berpindah tempat. Ganyanya yang khas mampu membangkitkan bayangan saya seolah sedang berada ditempat tersebut. Namun menurut opini saya penggambaran latar yang terlalu lama malah memberi kesan membosankan. 


Alur

Penggarapan plot yang progresif dan tidak berbelit-belit menjadi mudah untuk dicerna, semua masalah diselesaikan hingga tuntas Selebihnya kisah berjalan maju dengan sosok Strike yang tetap berfous pada petunjuk pemberian Jerry Waldegrave dan Chard. 


Dari beragam hal menarik dari buku ini saya sangat tertarik pada beberapa kalimat quotes yang membekas dipikiran saya.


"Jika Anda mengharapkan persahabatan seumur hidup dan kesetiakawanan yang tidak egois, bergabunglah dengan militer dan belajarlah membunuh. Kalau Anda menginginkan aliansi temporer seumur hidup dengan sesama yang akan menari gembira di atas setiap kegagalan Anda, menulislah novel."
          -The Silkworm ‘Ulat Sutra’, hlm 467

Perlu kesabaran untuk menyelami dunia pembunuhan Owen Quine, tapi Robert Galbraith selalu menyuguhkan kisah dengan tema yang menarik. Sebaiknya jangan melihat buku ini dari ketebalannya karena tanpa disangka buku ini dapat mengisi waktu anda. Saya persembahkan lima bintang untuk buku ini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...