Tampilkan postingan dengan label Ria N. Badaria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ria N. Badaria. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Maret 2017

Wishful Wednesday [27] - World Poetry Day



Dunia baru saja melewatkan Hari Puisi sedunia yang jatuh pada 21 Maret kemarin. Aku tidak sadar akan hari penting itu. Padahal aku pembaca setia puisi ,namun aku tidak menandai secara khusus bahwa hari besar itu jatuh di bulan ini. Bulan yang kupikir akan berlangsung sangat lama hingga mencengkram seluruh engsel persendianku.

Aku memuji Chairil Anwar, aku menginterpretasi puisi bersama Sapardi di salah satu kelasnya. Aku memuji seorang pria di hari puisi dunia dalam kelas mata kuliahku lalu menuliskannya di dalam catatan yang tak pernah dibaca siapapun selain aku. Tidak juga kau.

Aku melantunkan syair-syair di kelas bahasa Indonesia. Berterima kasih pada guru kelas bahasa Indonesiaku yang mengizinkan kami keluar dari kelas mengitari halaman belakang sekolah mencari materi puisi agar kami bisa merangkainya sendiri. Dan dia awal kebangkitan puisi dalam nadiku.

Sastra modern menurut Sapardi di kelas puisinya berkata bahwa sastra modern saat ini adalah pembodohan bagi mereka yang tidak mengenal apa itu sastra. Ia mengucapkan itu dua tahun lalu ketika aku menghadiri sebuah event perbukuan akbar di Jakarta Barat. Lalu aku menyangkutpautkan perkataannya dengan buku karangan seorang penulis yang dikenal mampu membaperkan prmbacanya dengan model keakuan yang ia tulis dalam buku bukunya. Sebut saja dia BC.

Aku tak ingin membandingkan lebih jauh tentang karya miliknya .Yang aku tahu di buku puisi miliknya yang memiliki sampul berwarna putih memakai gaya penuturan keakuan seolah ia yang paling tahu tentang perasaan dan problematika hati setiap orang. Anak muda sekarang pasti menyebut kata kata yang dipilihnya mampu menggetarkan dan menarik sebuah persepsi "Buset, buku ini gue banget". Padahal isinyatidak lebih dari curhatan dan kata kata yang dipermanis untuk merelevansikan pikiran penulis dengan pembacanya.

Menurutku puisi tidak seperti itu. Jauh lebih bermakna, rumit dan misteri yang membuatmu akan berpikir ulang tentang makna kalimat puisi tersebut. Kalau hanya kumpulan kata kata indah, masukkan saja dalam buku self improvement seperti halnya Love Life, kata kata supportif seperti itu akan lebih berarti disana.

Sebagian besar orang menganggap puisi itu sulit, ambigu, bikin kening berkerut dan hal buruk dan kuno dialamatkan pada karya sastra ini. Tapi anak muda bahkan orang orang tua masih tetap beranggapan seperti itu. Makanya jarang anak muda menyukai sangat jarang di Indonesia. Karena mereka lebih mengutamakan kata kata indah yang mampu menyatu dengan kehidupannya ketimbang seni dari metafora dan pengandaian dari kandungan puisi yang sebenar-benarnya.




Di hari yang menarik itu aku berharap bisa menambah bacaan puisiku. Memang kecenderunganku membaca buku fiksi fantasi melebehi apapun. Tapi aku sangat rindu untuk kembali berpuisi dan mengoleksi kumpulan puisi lagi. Karena ada banyak hal yang bisa digali dari sebuah puisi. Puisi memmbutamu berkhayal. Puisi membawa pembacanya menyusup dalam arti dan makna ganda dalam hidup. Merenungi tentang kebenaran dan menarik pikiran manusia yang membuat segala hal tampak rumit. 

Hidup secara sederhana hanyalah hitam dan putih. Tapi memang pada kenyataannya tidak seperti itu. Puisi membongkar hal-hal sulit yang hidup dalam diri manusia menjadi petuah-petuah pengingat bahwa itu tidak sesulit yang diduga. Perenungan ini yang seringkali dihindari mereka yang tidak membaca dan memahami puisi. Karena yang adalah kebenaran dan orang-orang cenderung menghindari kebenaran itu.  

 Diantara buku puisi yang belakangan mulai familiar, aku memilih There Is No New york dan The Book Of Forbidden Feeling sebagai wishlist. Dua nama itu sudah sangat familiar apalagi setelah Aan Mansur ikut berkontribusi dalam puisi milik Rangga di Ada Apa Dengan Cinta.  Sementara Lala Bohang sudah amat sering melakukan kelas menulis dan ototmatis aku tahu karena blogge kesukaanku sangat suka dengan buku barunya The Book Of Forbidden Feeling.

Menurutku tidak ada kata terlambat untuk membaca buku puisi. Puisi bukan sesuatu hal kuno. Ia memuat kata-kata indah sama ketika kamu membaca kumpulan quotes dan kata motivasi tentang cinta. Dan dua buku pilihanku diatas sangat tepat dibaca untuk kamu yang masih bingung ingin mulai membaca buku puisi dari mana. Mulai saja dari dua buku itu. ^^

Kamis, 11 Februari 2016

Book Review: Fortunata oleh Ria N Badaria


Judul Buku : Fortunata
Penulis : Ria N Badaria
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jenis : Amore  
Tebal: 168 hal
Tahun Terbit : Cetakan kedua, 2015
ISBN : 9786020321882
Rating: 2/5

Sabtu, 24 Oktober 2015

Book Review A Shoulder To Cry On - Ria N. Badaria (Cover Baru)




Judul : A Shoulder To Cry On (Cover Baru)
Penulis : Ria N. Badaria
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Oktober 2015
Genre : Amore
Tebal : 312 halaman
ISBN: 9786020321608
Rating: 4/5

Sinopsis:
Damar tahu sejak awal apa yang dilaluinya salah. Berjuang untuk hidup bersama adiknya setelah kedua orangtua mereka bercerai membuat Damar terpaksa menentukan pilihan yang salah dalam hidupnya. Pilihan yang baru terasa benar-benar salah setelah ia bertemu dengan Imelda, seseorang yang seharusnya tidak pernah merasakan cinta.

Andai asa cinta bisa dengan mudah diedam dan dihentikan, tentu Damar akan memilih hidup tanpa perasaan itu. Sayang itu tidak semudah yang dibayangkannya, ditengah perjuangannya untuk melindungi adiknya, Danu, dan seorang gadis malang bernama Anka, yang belakangan mulai disayanginya. Damar harus tetap menyisakan sedikit ruang dalam hatinya untuk merasakan sakit, saat cinta perlahan-lahan menyadarkannya bahwa ia tidak pantas menerima dan memberikan cinta.

Di saat cinta tidak dapat tergapai dengan sempurna, di saat harapan di saat harapan seketika sirna, mungkinkah penyesalan masih tetap berguna?

  Anka dan Danu dipertemukan di saat yang tidak terduga saat awal duduk di bangku SMA. Pertemuan itu menjadi awal persahabatan mereka yang semula tidak pernah saling mengenal. Kini mereka duduk di tingkat akhir SMA dan mereka tetap akrab. Kawan-kawan Danu mempertanyakan apakah Danu akan benar-benar jadian dengan Anka karena kedekatan mereka yang bisa dibilang lebih dari sebatas persahabatan. Nyatanya tidak, Danu meyakinkan dirinya bahwa hubungan mereka  hanya sebatas sahabat dan ia selalu berjanji akan menjadi pelindung sekaligus sahabat yang terbaik bagi Anka. Sementara itu, Anka yang sedang dekat dengan Giyo akhirnya resmi bepacaran. Mereka selalu terlihat bersama dan lama-kelamaan hal itu membuat Danu kesal. Tapi Danu mampu menyembunyikan kekesalannya itu dari Anka.


Hingga suatu malam tersiar kabar buruk yang menimpa kedua orang tua Anka, yang akhirnya membuat gadis itu kehilangan orang yang dicintainya. Karena kondisi yang memaksa, Anka putuskan untuk tinggal bersama Danu dan kakaknya Damar Adi Wijaya. Damar hadir layaknya malaikat yang senantiasa hadir di saat Anka harus menghadapi cobaan yang datang kepadanya. Damar berperan sebagai seorang kakak yang baik mulai dari mencarikan pekerjaan untuk Anka dan bentuk perhatian lainnya yang membuat gadis itu mulai menyimpan rasa. Perasaan yang salah yang seharusnya tidak diberikan untuk seorang Damar Adi Wijaya yang memiliki usia yang terpaut jauh darinya.

Ini pertama kalinya saya membaca karya Ria N Badaria salah satu penulis Amore yang sebelumnya sudah menuliskan buku Fortunata. Diawali dengan penuturan kisah keseharian Anka dan Danu sebagai pelajar, kita di berikan secuplik kisah masa lalu Danu yang menjadi alasan kepindahannya bersama kakaknya ke Jakarta. Cerita berlanjut memasuki masa-masa yang bisa dibilang tragis saat Anka harus menjalani hidupnya yang sulit sepeninggal orang tuanya. Berat bagi Anka untuk melanjutkan aktivitasnya kembali seperti dulu. Tanpa orang tua, hidupnya goyah. Tapi disini  Danu berperan sebagai seorang sahabat yang sabar yang selalu menghibur dan menjaga Anka. Arti penting sebuah persahabatan seolah ditunjukan oleh penulis pada bagian ini.


Meskipun Anka bukan tokoh utama dalam novel ini tapi kehadirannya mendapat porsi cerita yang cukup banyak. Mulai dari kesehariannya bekerja di cafe dan pulang pergi sekolah-rumah diceritakan dengan detail. Mungkin karena inilah saya merasa alur cerita sangat lambat dan tidak fokus dengan konflik utamanya. Saya menyesalkan kenapa posisi Giyo di buku ini sangat sedikit.


Buku ini hanya menggunakan satu setting cerita, tapi diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga. Setelah kehidupan berat yang dialami Anka yang jadi fokus utama, penulis mengenalkan kita pada kisah lain dari Damar Adi Wijaya. Damar berprofesi sebagai seorang pengacara yang selalu sibuk dan hanya tinggal bersama Danu di Jakarta. Kehidupannya mulai terusik setelah ia terlibat untuk menangani kasus perceraian Imelda Tanjung. 


Tetapi setelah kasusnya mulai menemukan titik terang Imelda Tanjung menyeret Damar dalam upayanya untuk membalas dendam kepada mantan suaminya. Hanya  pelukan tapi seluruh wartawan menangkap adegan itu dan memberitakan kemesraan mereka. Kini Damar tidak lagi memandang Imelda dengan cara yang sama. Perasaan itu terus tumbuh dan membawa Damar pada masalah lain bahwa ia telah mencintai orang yang bahkan tidak boleh dicintainya. Konflik batin bermunculan saat Damar sadar masih ada wanita lain yang menempati hatinya, Anggun Pramudya Kusuma.


Damar yang bekerja siang dan malam membuat kebersamaannya dengan Anka terasa kurang. Danu yang menyembunyikan perasaannya dari Anka juga tidak ada perkembangan. Hubungan mereka ya sebatas begitu saja tanpa ada penyelesaian.  Penulis hanya menekankan cerita pada konflik batin  antar tokohnya. Adegan romantis di sini bisa dibilang sangat sedikit dan tidak ditunjukan secara eksplisit, ya jadi tidak akan kita temui adegan hot atau sensasi berdebar-debar ala metropop. Sebenarnya kalau adegan romantis dan hot diperbanyak saya akan lebih menikmati buku ini. *hihi :)


Saat membaca buku ini kita tidak dikenalkan langsung pada konflik utama. Ada konflik tentang keluarga yang dipendam oleh Danu dan Damar. Setiap tokoh memiliki konfliknya masing-masing dengan gaya penceritaan yang alur maju yang lambat. Bagian yang berkesan menurut saya ada di saat Damar menerima surat yang ditujukan untuknya yang ternyata berasal dari ayahnya. Pengakuan ayah Damar membuat saya merasa campur aduk karena tidak tahan ingin menangis. Di bagian ini kita akan paham arti kasih sayang sebuah keluarga yang sebenarnya. 


Para penggemar romance remaja mungkin akan suka dengan buku ini. Untuk penggemar kisah ala metropop (khususnya yang bertemakan cinta segitiga) sebaiknya juga menambahkan bacaan ini ke dalam read list. At least, saya suka dengan cover barunya yang soft dan pas dengan isi cerita. Setelah ini saya tertarik ingin membaca Let Me Be With You *Masuk daftar wishlist.

4 bintang untuk A Shoulder To Cry On :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...