Kamis, 21 Juli 2016

Book Review Letterbox 110 by Lee Do-Woo



Leterbox 110
Penulis : Lee Do–Woo
Penerjemah : Krisnadiari
Penyunting : R. Amanda
Proofreader : Titish A.K
Ilustrasi isi : @teguhra
Tebal : 492 hlm
Cetakan pertama Februari 2016
ISBN : 978-602-7742-72-7


Rating : 3/5

Jinsol sudah merasakan bagaimana rasanya bekerja dengan seorang penulis sekaligus produser radio. Mereka akan senang sekali mengkritik tulisannya dan itu membuat Jinsol tidak nyaman dalam bekerja. Sudah terhitung sembilan tahun Jinsol bekerja sebagai scripwriter untuk radio FM tempat ia bekerja. Dan ia sudha merasa nyaman dengan produsernya sekarang-produser Jang.

Begitu terdengar kabar Jinsol akan dipasangkan dengan produser baru yang ternyata juga seorang penulis buku antalogi puisi, pikirannya langusng skeptis. Jinsol tahu betul bagaimana rasanya berduet dengan produser yang juga seorang penulis yang punya kebiasaan tukang kritik. Dan produser yang akan bersamanya nanti adalah Lee Geon. Yang dikenal sangat supel dan disukai setiap orang kecuali dirinya.

Dikalangan karyawan yang pernah bekerja dengan Lee Geon menilai produser itu sangat baik dan dikenal santai dalam bekerja. Dan memang benar PD Geon bekerja dengan prinsipnya dan mendapat respon positif dari pencapaian yang ia raih. Berbeda dengan Jinsol yang memiliki umur lebih muda dua tahun darinya, Jinsol lebih pemalu, kaku dan penuh rencana. Bagaimana dua karakter yang berbeda ini dapat menyatu untuk menjalankan tugas mereka saat siaran radio.

Geon sebagai program director dan Jinsol sebagai scripwriter saling berhubungan dalam mengisi sebuah program radio. Keduanya harus berjalan beriringan dan saling mendukung satu sama lain. Tapi, di hari pertama rapat Deon sudah berhasil mengacak-acak pertahanan diri Jinsol. Bahkan Geon dengan mudahnya membaca catatan pribadi Jinsol yang berisi rencana target pencapaian miliknya.entah apa yang ada dipikiran Geon, tapi Jinsol berusaha menyesuaikan diri dengannya.

Seiring berjalannya waktu Jinsol mampu menguasai dirinya. Ternyata Geon tidak seburuk yang ia duga. Walaupun tetap ada pikiran skeptis tentang program director yang bisa menulis, Jinsol mendapati dirinya mampu bicara terbuka tentang hal pribadinya pada Geon. Ia juga makin sering mendapat ajakan pergi bersama dengan Geon dan Jinsol tidak pernah bisa menolak.

Semakin Jinsol memenuhi ajak itu semakin ia mengenal Geon lewat cerita-cerita yang ternyata hanya pernah diberitahukan padanya. Hal ini membuat Jinsol merasa dirinya dianggap spesial di mata Geon. Saat perasaannya mulai tumbuh Geon justru hanya menganggapnya sebagai teman diary. Tempat dimana Geon mencurahkan isi hatinya. Dan luka masa lalu yang pernah ia rasakan.


Cinta yang telah lalu itu adalah perasaan yang meskipun dipikirkan kembali tetap saja sulit untuk dimengerti. Apakah perasaan yang kita rasakan saat itu benar-benar cinta atau bukan? – Jinsol, hlm 45 


“Ada apa gerangan dengan pemuda yang satu ini, bagaimana bisa puisimu itu berisi keluhan tentang cinta? harusnya kau hidup dengan hati yang penuh semangat. Apa kau mau menyianyiakan masa mudamu hanya karena cinta.” – Kakek, hlm 129 


“Aku pikir akan lebih baik kalau aku menghapus semua yang ada didalam hatiku. Aku ingin mengosongkan hatiku, tapi aku tidak tahu kepada siapa aku bisa meluapkan isi di dalam hatiku ini. Terlebih lagi, isi hatiku ini bukanlah sesuatu yang bisa kuluapkan begitu saja dengan meneriakkan semuanya di tengah hutan bambu.” – Lee Geon, hlm 168
Minggu ini saya banyak sekali dicekoki kisah roman yang dominan membentuk problematika perasaan k itu tiap karakternya lewat kenangan cinta yang pahit di masa lalu. Dan intrik itu tidak ada bosannya selalu muncul di beberapa novel roman lokal maupun terjemahan yang saya baca minggu ini.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu, tapi rasanya semesta menjebak saya untuk ikut masuk dalam tema yang tidak ada habisnya ini. Bisa dipastikan begitu membaca sinospsis di balik buku ini saya langsung tertuju pada tokoh heroine di buku ini yaitu Geon yang memiliki rahasia dengan masa lalu percintaannya.

Lee Do-Woo sebagai penulis membuka cerita dengan setting kantor siaran radio yang berlokasi di Seol. Ditengah hiruk pikuk perkotaan, penulis menempatkan karakternya menyatu dengan lingkungan maupun tokoh baru di sekitarnya. Contohnya saat Jinsol pertama kali masuk ke kedai milik sepasang kekasih bernama Aeri dan Seonu yang ternyata adalah sahabat dari Lee Geon.

Penulis sangat mahir membangun hubungan antara Jinsol dan Geon yang awalnya agak canggung menjadi hangat dalam ikatan pertemanan. Semua itu tidak lepas dari ikatan kerja antar dua tokoh yang memungkinkan mereka untuk bisa pergi kemana saja bersama, walau hanya sekedar minum-minum  atau menikmati malam bersama setelah bekerja. Diantara keduanya tidak ada yang mau mengungkapkan perasaan masing-masing tapi hal ini membuat hubungan mereka semakin lekat.

Dengan tebal lebih dari empat ratus halaman buku ini masuk dalam kategori buku terjemahan dengan alur yang lambat. Dialog yang panjang-panjang yang kebanyakan membahas masa lalu dan pemikiran Jinsol dan Geon membuat cerita mereka seperti berjalan ditempat.

Kualitas terjemahannya terasa luwes dan saya tidak meragukan Haru untuk bukunya kali ini. Tapi saya hanya merasa kurang nyaman dengan cerita di buku ini yang cenderung lambat.  Dan konfliknya baru muncul dpertengahan buku. Duh, benar-benar harus ekstra sabar untuk menuntaskan buku ini.

style='mso-ansi-language:IN'>Semakin Jinsol memenuhi ajak itu semakin ia mengenal Geon lewat cerita-cerita yang ternyata hanya pernah diberitahukan padanya. Hal ini membuat Jinsol merasa dirinya dianggap spesial di mata Geon. Saat perasaannya mulai tumbuh Geon justru hanya menganggapnya sebagai teman diary. Tempat dimana Geon mencurahkan isi hatinya. Dan luka masa lalu yang pernah ia rasakan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Appeciate with my pleasure.

~ VS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...