Selasa, 26 Juli 2016

[Ask Author] With Tere Liye - Pulang



Halo, masih setia mampir ke Booch Consultant kan ya? Karena disini kalian bisa nemuin berita dan kabar menarik soal buku dan penulis yang sayang banget untuk dilewatkan. 


Di postingan kali ini saya akan menyajikan tanya penulis bersama Tere Liye saat bedah buku Pulang di Islamic Book Fair (6/3) beberapa waktu lalu. Bedah buku ini dipandu oleh seorang host bernama Jaka Lelana dan disiarkan langsung oleh radio Sindotriwijaya FM. Jadi selain bisa datang langsung ke Istora Senayan pembaca yang tidak bisa datang bisa mendengarkan tanya jawab dengan Tere Liye melalui siaran radio.

Kalau kalian belum pernah baca buku Pulang, kalian bisa baca resensi yang sudah pernah saya tulis di sini.



Di bedah bukunya, bang Tere mengatakan bahwa novel Pulang punya dua premis. Pertama, setiap orang pasti memiliki masalah dalam hidupnya. Contohnya sakit hati, bertengkar dengan teman atau orangtua,  di khianati, sakit hati atau bertepuk sebelah tangan. Tapi diluar itu kita punya sesuatu yang menarik untuk dipikirkan. Di novel ini punya masalah tersendiri yaitu definisi dari ‘Pulang’.

Premis yang kedua adalah tentang ‘apakah semua orang berhak untuk pulang?’. Tapi bukan arti pulang secara fisik, namun definisi pulang yang lebih hakiki yaitu pulang untuk menemukan hakikat kejelasan dalam hidup masing-masing.  

Tere liye berusaha menggarap premis tersebut menjadi kisah yang menarik dengan membangun  setting yang dekat dengan passion yang ia kuasai seputar dunia ekonomi. (karena aslinya Tere Liye adalah seorang akuntan). Hal ini mennjawab dengan jelas mengapa ia terlihat menguasai hal-hal yang berkaitan dengan dunia shadow economy di novelnya.

Penulis yang punya nama asli Darwis ini mengatakan bahwa dunia shadow economy yang terjadi di dalam novel memang benar terjadi di dunia nyata. Bab pembuka yang melibatkan perburuan babi hutan di pedalaman Sumatra juga sudah disengaja untuk membuat cerita semakin kompleks. Bahkan bang Tere sempat ingin memberi judul pada novel ini menjadi ‘Babi Hutan’. Tapi tentu saja ia membatalkannya dan memilih judul Pulang untuk menarik perhatian pembaca.

Tere Liye juga mengaku menulis novel Pulang tidak sesulit saat beliau menulis novel Rindu. Ia bisa membuat cerita lebih berkembang dengan memasukkan setting tempat yang beragam, contohnya ketika Bujang pergi ke Hongkong, lalu lari ke Filipina dan kembali lagi satu tempat ke Indonesia. Ia juga memasukkan ‘pemanis’ dan twist cerita lewat kisah roman Ayah dan Ibu Bujang yang mendapat penolakkan karena perbedaan masa lalu mereka.
Tidak hanya membahas ringkasan proses menulis, ada sesi tanya jawab untuk pengunjung yang sudah hadir lho. Penasaran apa aja sih yang pembaca tanya ke bang Tere bahas di book fair kemarin? Sekarang mari kita simak Ask Author edisi Tere Liye dan kisah di balik proses penulisan novel Pulang.
Enjoy :)



Pilihan Cover Pulang
Bagaimana kisah di balik pembuatan cover novel Pulang?

Tere : Saya meminta pembaca saya untuk memilih cover mana yang mereka suka. Kebanyakan mereka suka model sampul yang ada sobekan kertasnya.
Atas beberapa saran maka cover di desain ulang dan jadilah seperti yang sekarang. Makna dari cover buku ini adlah kita selalu bisa merobek perjalanan hidup yg menyakitkan untuk memulai bab yang lebih baru.


Butuh waktu berapa lama untuk membuat karya yang bagus? Pernah nggak saat sedang menulis lalu kehabisan ide?  
Tere : Novel tidak pernah butuh waktu lama untuk ditulis. Rata-rata hanya butuh waktu 3-4 minggu. Yang lama adalah lama meriset novel. Salah satunya adalah novel rindu yang selesai dalam waktu seminggu. Yang lama adalah mengumpulkan fragmen-fragmen sejarahnya. Sama seperti novel Pulang, banyak sekali snapshot-snapshot yang saya lihat dalam keseharian saya. Yang masuk di kepala nanti akan saya masukkan bagian itu kedalam cerita. Menulisnya tidak pernah lama. 

Yang kedua, saat inspirasi mentok , tanyakan pada dirimu sendiri apa inspirasi kamu saat menulis novel. Andai kata motivasi kamu menulis novel kokoh sekali seperti permata, saya yakin jangankan ketika kalian mentok tidak punya ispirasi sama sekali untuk menulis atau bahkan tulisan kalian di protes dan diserang oleh orang lain, kalian akan tetap tegak berdiri menjawab dalam hati ‘insyaallah saya punya motivasi mengapa saya harus tetap menulis’ dan tidak ada satu pun yang bisa memecahkannya. 

Saran saya, barang siapa yang mulai merintis karir sebagai penulis segera temukan motivasi terbaik kamu kenapa pengin menulis. Dengan serta merta inspirasi akan ada di kepalamu.

Bagaimana survey yang dilakukan Tere Liye untuk tahu hal-hal aktual contohnya masalah Shadow Economy di novel Pulang ini?

Tere: Saya melakukan observasi untuk Pulang sekitar 3-6 bulan. Yang butuh waktu lama di novel ini adalah menemukan benang merah antara anak muda yang benci dengan suara adzan dengan cerita yang akan disampaikan. Itu harus dijelaskan secara detail. Karena menulis novel itu beda dengan menulis non fiksi. Ketika kalian menulis novel kalian dituntut untuk make sense, masuk akal atau tidak, sistematis atau tidak, rumit atau tidak. 


Dari keseluruhan novel Tere Liye, apa tujuan Bang Tere Liye menulis?

Tere : Jawaban saya selalu sama, tujuannya hanya menghibur dan menemani. Kita ingin sekali generasi berikutnya adalah orang yang tidak korup dan amanah dengan tugas-tugasnya. Orang yang tidak saling membenci. Maka dari mana mereka akan mendapat pendidikan tersebut? Buku adalah cara untuk menyampaikan  pemahaman baik. Karena kebetulan saya menyukai dunia tulis menulis maka saya berusaha mengirimkan buku-buku yang semoga menggugah.  Semoga melalui tulisan-tulisan tersebut bisa melahirkan generasi yang jauh lebih baik dari kita.


Dari 24 novel yang Tere Liye karang memiliki tema yang macam-macam.  Siapa penulis novel idola? Genre yang bermacam-macam itu tujuannya untuk menjangkau pasar yang lebih luas atau Tere bisa menguasai semua genre?

Tere : Alasan pertama, menurut survey yang saya lakukan di facebook, pembaca sekarang cenderung membutuhkan genre terus berbeda setiap waktu. Secara tidak langsung saya dituntut untuk menulis genre yang tidak saya kuasai. Saya coba untuk dilatih syukur-syukur menarik dan disukai pembaca. Kedua, pembaca di Indonesia memiliki segmentasi yang besar. Saya menggunakan genre fantasi (dari buku Bumi dan Bulan) untuk menjangkau pembaca yang mayoritas anak muda. Selain itu ada packaging atau kemasan untuk memikat pembaca.

Saya punya banyak idola penulis. Lokal misalnya abang Ahmad, Andrea Hirata dan seterusnya. Saya membaca banyak naskah mereka. Termasuk besok lusa bisa jadi saya membaca naskah dari kalian yang tumbuh, menulis sama produktifnya dan sama tulusnya dengan orang-orang yang kalian impi-impikan.

Kenapa Tere Liye selalu mengangkat kisah orang-orang biasa atau tradisional ketimbang orang-orang modern?

Tere: Sebenarnya nggak begitu juga, salah satunya di buku Negeri Para Bedebah banyak dibuat tokohnya jago. Tapi memang di banyak buku seperti seri Anak-Anak Mamak settingnya di perkampungan atau Aku, Kau dan Sepucuk Angpao Merah kisah cinta tentang pengemudi sepit yang meliintas di sungai Kapuas.
Tapi memang betul saya memilih naskah-naskah tersebut karena menurut pemahaman saya orang-orang biasa juga punya cerita yang sama menakjubkan dibandingkan dengan orang-orang yang kita lihat sangat megah dsb. Hanya masalah sudut pandang saja, apakah kita bisa menemukan kisah yang menarik dari hidup mereka atau tidak.

Apa landasan filosofis dari menulis? Bagaimana ketika kita mulai menulis namun kita berselisih paham dengan pemahaman orang lain?

Tere : Saya percaya insyaallah setiap penulis punya niat yang baik. Terserah jika penulis lain punya prasangka atau tidak suka dan berbeda paham. Harusnya setiap penulis yang memutuskan menjadi penulis ingin agar dunia menjadi lebih baik.. Kalau berbeda prinsip dan pendapat itu kembali ke pribadi masing-masing. 

Catatan: Disela tanya jawabnya, Tere liye sempat mengaku saat seorang hadirin yang datang bilang bahwa dia nnge-fans berat dengan beliau. Tapi ia langsung melarang hadirin yang datang itu untuk nge-fans dengan dirinya tapi cukup pada karyanya. Lalu ia menjelaskan alasannya dengan sedikit tertawa dan berkata ‘karena boleh jadi saya lebih menyebalkan dari orang yang kamu benci hari ini.” (Secara tidak langsung beliau menunjukkan bahwa dia hanya orang biasa yang punya kekurangan dan tidak pantas dijadikan idola).

Nggak selamanya Tere Liye akan terus menulis, apakah ada terbersit untuk membuka kelas menulis dari Tere Liye untuk penulis muda?

Tere : Apakah besok lusa saya masih menulis, itu misteri. Tapi sekali kamu punya motivasi yang baik untuk melakukan sesuatu isyaallah kamu bisa menjaganya hingga berpuluh-puluh tahun kedepan. Jadi motivasi adalah hal terpenting sebelum kamu melakukan sesuatu. Kalau kamu ingin menjadi penulis, mulai latihan sejak sekarang, lakukan dengan konkret, pelajari cara orang lain Kalau kamu bertanya lebih spesifik, saya tidak punya kelas menulis karena saya percaya menulis itu ‘ditumbuhkan’..

Apakah bacaan yang sangat mempengaruhi Tere Liye?

Tere : Alquran, Kitab, dan hadist. Dalam hidup kita  novel hanya urutan kesekian yang harus dibaca. Tapi kalian tahu persis apa yang harus paling utama dibaca. Baca novel memang menyenangkan tapi bukan bacaan yang harus kalian prioritaskan.

Apakah dalam menulis novel Tere Liye punya tujuan dakwah?

Tere : Saya bukan ustad, tapi saya tidak akan menutupi identitas saya bahwa saya bangga menjadi seorang muslim. Ketika saya berkata seperti itu, novel-novel saya akan dipenuhi dengan setting dan nasihat-nasihat dalam agama. Kalian tidak akan menyangka quote-quote yang saya berikan semua itu ada dalam agama kita (al-quran, hadist, kitab sahih dan buku karangan ulama mahsyur).


Salam Penutup dari Tere Liye

Semoga setelah membaca novel ini kalian bisa memahami arti definisi 'Pulang' termasuk memahami bahwa sejatinya kita tidak pernah bisa membenci suara adzan. Adzan selalu memanggil kita untuk pulang. pada Adzan yang keberapa kalian terpanggil hatinya.

Nah, sesi tanya jawab bersama Tere Liye jadi penutup acara Bedah Buku Pulang di Istora Senayan Jakarta. Jadi makin tahu sama sosok salah satu penulis misterius Indonesia ini kan? Ya, walaupun sempat terdengar kabar berita penolakan lgbt yang mengangkat namanya beberapa waktu lalu, nyatanya Tere Liye tidak mempermasalahkan hal itu dan malah ia terus berkarya. Terbukti beberapa bulan setelah novel Pulang rilis, Tere Liye ngeluarin buku baru yang berjudul Matahari-buku ketiga dari seri fantasi Bumi. 

Biarlah yang berlalu tetap jadi masa lalu. Sampai ketemu di event buku lainnya ya. :)

Jangan lupa follow blog ini untuk dapat info refrensi buku kece nan menarik dan hal-hal seputar penulis dan bukunya yang sayang banget kalau kalian lewatkan. Bisa follow lewat email (disisi kanan blog), atau Google Friend Connect (GFC).

See you on next event book lovers :)

4 komentar:

  1. saya sangat suka dengan tulisannya, sebab dari tulisan ini saya bisa belajar tentang ilmu menulis dari mbak tere penulis yang sangat terkenal :)

    BalasHapus
  2. Dulu saya juga penasaran sama dia, gue cari fotonya di google kadang nggak ada. Tapi gue pernah ketemu pas launching buku barunya di Gramedia Makassar. Rasa penasaran gue seketika mereda. Hehe

    BalasHapus
  3. Smpe sekarang belum pernah berhasil ketemu sama bang darwis..

    Rupanya sekelas darwis .masih kagum juga dengan penulis lokal lainnya..

    Contoh low profile yg patut ditiru.. Dan ia sendiri enggan untuk di jadikan idola...

    BalasHapus
  4. Ga sangka ternyata kang Tere Liye nge-fans juga sama Andrea Hirata..Saya sangat suka karya2nya blio :)

    BalasHapus

Appeciate with my pleasure.

~ VS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...