Selasa, 24 Mei 2016

Book Review Traveling To Infinity by Jane Hawking


Traveling To Infinity
Penulis : Jane Hawking
Penerjemah : Zia Anshor
Perwajahan isi : Ayu Lestari
Penerbit : Gramedia
Terbit : 2015
Tebal : 473 hlm

Available at Gramedia.com

Ini kisah tentang mantan isteri dari Stephen Hawking benama Jane Hawking. Benama asli Jane Beryl Hawking Wilde, Jane Hawking pertama kali bertemu Stephen saat usianya 17 tahun. Kala itu Jane yang sedang menikmati masa santai setelah ujian bersama teman-temannya melihat Stephen. 


Stephen menjadi tontonan yang aneh bagi Jane dan kawan-kawannya.  Stephen yang berjalan menunduk, dengan langkah kaki yang tidak normal membuat orang-orang yang melihatnya keheranan. Pemuda dengan rambut lurus tidak karuan itu berjalan berlawanan  hingga tidak sadar dengan keberadaan rombongan Jane yang menatapnya dengan heran.  

Entah kenapa setelah melihat Stephen waktu itu membuat Jane merasa tidak nyaman. Ia memang belum pernah mengenal Stephen, namun ada perasaan lain tumbuh di hatinya yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti sebuah rasa kagum yang bersemi di tengah hidupnya yang biasa saja. Walaupun Jane belum pernah bertemu Stephen, jauh sebelum itu Jane sudah pernah bertemu dengan anggota keluarga Hawking lainnya saat usianya baru tujuh tahun.

Keluarga Hawking memiliki 4 orang anak dan Stephen yang pertama. Mary, adik Stephen yang hanya berjarak 18 bulan adalah sosok yang nyentrik-sama seperti kakaknya, tidak rapi, suka melamun dan sibuk sendiri. Sedangkan adik peremupuannya yang lain, yang berjarak 5 tahun lebih muda dari Stephen nampak selalu gelisah dengan matanya yang berbinar-binar. Dan yang terakhir adalah Edward, yang ternyata bersekolah di tempat yang sama dengan adik Jane.

Tahun-tahun berikutnya pertemuan Jane dan Stephen terjadi secara tidak sengaja di London. Mereka mulai berkenalan dan barulah Jane tahu Stephen mulai mengalami perubahan. Stephen mengidap sebuah penyakit aneh yang langka pada masa itu. Diana menyebutnya sklerosis ganda namun bukan itu tepatnya penyakit yang diderita Stephen. Di usianya yang ke-21 Stephen sudah divonis oleh dokter hanya mampu bertahan beberapa tahun. 

Sejak tahu waktu yang tersisa untuk Stephen tidak lama, Jane tergerak untuk mengabdikan hidupnya untuk Stephen. Kemudian pernikahan menyatukan keduanya dan memberikan mereka dua orang anak yang manis bernama Robert dan Lucy. 

Semakin hari karir Stephen semakin meningkat. Penelitian yang ia tangani semakin diakui di kalangan ilmuwan dunia. Stephen mulai sering melakukan perjalanan luar negeri dan hal ini membuat Jane kepayahan menangani urusan rumah tangga dan kepentingan Stephen. Lalu munculah ketakutan terbesar dalam sebuah rumah tangga kecil mereka yang membuat Jane harus memilih keluarga kecilnya atau karir Stephen. 

Buku ini adalah sebuah kisah nyata kehidupan Jane Hawking, isteri dari Stephen Hawking.mengambil latar tahun 1962, kisah Jane dan Stephen berlatar di daratan Inggris selepas masa Perang Dunia II. Inggris yang saat itu berada di dalam kubu sekutu diliputi suasana tegang karena negeri adidaya mulai melancarkan perang dingin ditambah suasana memanas akibat adanya perang Vietnam.

Buku ini menghadirkan kisah Jane dan Stephen yang saat itu sama-sama mengenyam bangku kuliah lalu dilanjutkan dengan keseharian mereka setelah pasca menikah.

Berbagai macam masalah hadir setelah mereka memasuki babak baru yaitu rumah tangga. Mulai dari kesulitan mendapatkan rumah yang layak, hubungan Jane dengan anggota keluarga Stephen lainnya yang kadang menuai konflik. Dan kesulitan pembagian waktu antara kuliah dengan keluarga. 

Sosok Jane sebagai tokoh utama cerita sangat menonjol. Buku ini sepenuhnya menggunakan sudut pandang Jane. Ada kelembutan, kasih sayang, pejuangan dan kesabaran yang dapat dilihat dari karakter Jane. Sementara Stephen yang pendiam, tertutup lebih banyak menghabiskan waktu untuk riset penelitiannya. Hal ini juga yang membuat Jane merasa tersingkirkan dari kehidupan Stephen. 

Buku ini bercerita kisah kilas balik masa pernikahan Jane dan Stephen. Walaupun awalnya menggunakan alur mundur, hingga akhir cerita beralih menggunakan alur maju. Aku tidak merasa terganggu dengan pemakaian alur yang seperti ini. Ditambah dengan deksripsi waktu yang cukup jelas membuat cerita lebih mudah dinikmati. 

Secara keseluruhan aku menikmati buku ini. Ada banyak pesan yang coba dibangun penulis lewat kesehariannya. Ketabahan dan kelembutan hatinya mampu mengubah hidup seseorang yang dicintainya. Jelas buku seperti ini tidak boleh dilewatkan.

2 komentar:

  1. Memikat. Mungkin kata itu tepat disematkan pada novel ini. Atau justru terkesan berlebihan? Jika membaca review-nya, saya menangkap keseluruhan novel ini menceritakan bagaimana perasaan istri yang memiliki suami yang 'kadang-kadang' menganggapnya penting dan ada. Semacam cerita psikologi. Seperti pilihan yang kemudian disodorkan; keluarga kecilnya atau karir Stephen. jelas sekali pilihan yang sulit. Keduanya berada dilingkup orang-orang tersayang. Saya penasaran ending ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang lebih seperti itu, perasaan Jane sebagai isteri seorang pria jenius yang sayangnya sering lupa akan keberadaannya.

      Hapus

Appeciate with my pleasure.

~ VS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...