Minggu, 04 Oktober 2015

Book Review: Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta oleh Tere Liye


Rate: 5/5
Reaksi Singkat; Kalau hati ini bisa menjerit, pasti ia akan teriak "Ya! Buku ini gue banget!"
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus 2014
Tebal: 69 hlm
Cover & Ilustrasi: eMTe
Sinopsis: Goodreads



Warning: This is Spoiler

Awalnya aku tidak sengaja menemukan buku ini saat sibuk mencari buku di toko buku. Belakangan yang kutahu belum lama Abang Darwis baru saja menuliskan buku barunya yang berjudul Rindu. Sejak awal penulis yang satu ini sudah menjadi penulis Indnesia favoritku karena semua tulisannya tidak bercerita kisah drama cengeng dan mainstream. Sejak pandangan pertama aku langsung tertarik untuk membacanya. Dan aku tidak menyesali sudah meluangkan waktu untuk menikmati kata-kata indah darinya.


Kumpulan puisi ini sangat menyinggung kisah cinta kaum muda urban saat ini. Dilengkapi dengan ilustrasi yang manis menambah kesan spesal untuk melengkapi setiap judul puisi di dalamnya.

Source by Kak Lucty


Sajak UN

Jika cinta adalah pilihan, maka dia persis soal pilihan ganda.
Jika cinta adalah alasan, maka dia persis soal esai.
Jika cinta adalah kesempatan, maka dia persis esai “benar” atau “salah”.
Jika cinta adalah kecocokan, maka dia persis soal mencocokkan daftar A dengan daftar B.
Entahlah, jenis soal seperti apa cinta ini.
Yang pasti, tidak ada cinta yang tidak pernah diuji
Dan ket
Huilah, semakin tinggi cinta itu, maka akan semakin dahsyat ujiannya.

Jangan mengeluh
Jangan risau.
Hanya orang-orang yang terbaik yang akan lulus.
Lantas melihat kristal cintanya begitu indah





SAJAK “JANGAN HABISKAN”

Kawan, jangan habiskan air mata untuk menangisi seseorang
Yang jangan-jangan tidak pernah menangis untuk kita

Jangan menghabiskan waktu untuk memikirkan seseorang
Yang boleh jadi tidak pernah memikirkan kita

Hidup ini memang kadang ganjil sekali
Ada miliaran orang, tapi kita menambatkan satu hati
Ada berjuta kesempatan, tapi kita memilih satu saja

Hidup ini memang kadang rumit sekali
Ada banyak hari esok, tapi kita tidak beranjak
Terlalu banyak hari kemarin, tapi kita terus terbenam

Aduhai, hidup ini kadang menyebalkan sekali
Ada begitu banyak tempat, tapi kita masih di situ-situ saja
Ada begitu banyak pilihan kendaraan, tapi kita tidak segera naik
Masih saja di sana. Menatap kosong kesibukan sekitar

Sungguh, jangan habiskan waktu kita
Untuk seseorang yang tidak pernah tahu
Bahwa kita menghabiskan waktu demi dia.




BILA

Aku membencimu seperti aku membenci bayanganku.
Seperti bunga, membenci daun-daunnya.
Seperti kanguru membenci kantung di perutnya.
Seperti ngarai membenci buih dan percik airnya.
Seperti laptop memnci keyboard-nya.
Seperti ular membenci bisa
Seperti handphone membenci simcard.
Dan sejuta seperti-seperti yang lain.

Aku membencimu seperti aku membenci bayanganku.


SAJAK “KALAUPUN TIDAK”

Kalaupun dia tidak tahu kita menyukainya
Kalaupun dia tidak tahu kita mencintainya
Kalaupun dia tidak tahu kita menghabiskan waktu memikirkannya

Maka itu tetap cinta. Tidak berkurang sesenti pun perasaan tersebut.

Justru dengan ngotot ingin bilang, ingin pacaran, ingin aneh-aneh
Perasaan itu tiba-tiba bermetamorfosis menjadi egoisme.
Dan sebatas keinginan yang tidak terkendali saja.

Bersabar dan diam lebih baik.
Jika memang jodoh akan terbuka sendiri jalan terbaiknya.
Jika tidak akan diganti dengan orang yang lebih baik.




SAJAK “MEMBACAMU”

Akan kurawat kau dalam diam.
Agar tumbuh besar penuh pemahaman.
Akan kurawat kau dalam hening.
Agar tumbuh tinggi penuh kesabaran.
Akan kurawat kau dalam senyap.
Agar tumbuh kokoh penuh keikhlasan.

Sungguh akan kurawat kau.
Agar tidak ada yang menyakiti
Pun kalau memang harus disakiti.
Kau dan aku tahu apa yang terbaik dilakukan.
Pun kalau memang hatus gugur daun
Kau dan aku tahu besok lusa akan kembali rindang.

Akan kurawat kau dengan baik.
Aduhai “perasaaanku”
Agar kita nisa melewati semua kisah
Cinta sedih maupun gembira.
Karena kau adalah milikku satu-satunya.
Dan setiap orang memiliki perasaannya masing-masing
Kan kujaga “perasaanku” sebaik-baiknya.



ANGIN, HUJAN DAN SAKIT HATI

Kenapa ada angin?
Agar semua orang tahu ada udara disekitarnya.
Tiap detik kita menghirup udara, kadang lupa sedang bernapas.
Tiap detik kita berada didalam udara, lebih sering tidak menyadarinya.
Angin memberi kabar bagi para pemikir.
Wahai, sungguh ada sesuatu di sekitar kita
Meski tidak terlihat, tidak bisa dipegang.

Kenapa ada hujan?
Agar orang-orang paham ada langit di atas sana.
Tiap detik kita melintas di bawahnya, lebih sering mengeluh
Tiap detik kita bernaung di bawahnya, lebih sering me/ngabaikannya
Hujan memberi kabar baik bagi para pujangga.
Aduhai, sungguh ada yang menaungi di atas
Meski tidak tahu batasnya, tidak ada wujudnya.

Begitulah kehidupan.
Ada banyak pertanda, bagi orang-orang yang mau memikirkannya.

Kenapa kita sakit hati?
Agar orang-orang paham dia adalah manusia.
Tiap saat kita melalui hidup, lebih sering tidak peduli.


Tiap saat kita menjalani hidup, mungkin tidak merasa sedang hidup.
Sakit hati memberi kabar bagi manusia bahwa kita adalah manusia.
Sungguh, tidak ada binatang yang bisa sakit hatik
Apalagi batu, kayu, tanah
Tiada pernah mereka sakit hati

Maka berdirilah sejenak, rasakan angin menerpa wajah
Lantas tersenyum ada udara disekitar kita

Maka mendongalah ke atas saatiba, t sakit sakit itu, tatap bulan gemitang atau langit biru berselaput awan
Lantas mengangguk takzim seakan langit itu di sana.

Maka berhentilah sejenak saat sakit hati itu tiba, rasakan  segenap semestanya.
Lantas tertawa kecil atau terkekeh juga boleh. Kita adalah manusia.


 
K-E-L-I-R-U
Maaf aku sudah pindah rumah.
Tentu saja tidak akan ditemukan di sana.
Pohon kelapanya sudah lama tumbang.
Juga taman mawar disebelah parit
Bersama kusamnya cat dinding depan.

Maaf aku tidak memberitahumu.
Bukan tidak ingin
Bukan karena masih menyakitkan
Tapi bahkan saat kuketikkan namamu di Google tidak kutemukan.
Jadi harus ke mana ku cari nomor HP-mu?
                                                          
Maaf aku sudah pindah rumah.
Entah apakah kau akan membaca kertas ini atau tidak.
Atau terlanjur dimakan rayap hingga terberai hancur.
Seperti perasaan yang dimakan kebencian.



SAJAK “EMBUN DAN PERASAAN”

Kenapa embun itu indah?
Kenapa butir airnya tidak menetes?
Sekali dia menetes, tidak ada lagi embun.

Kenapa purnama itu elok?
Karen bulan balas menatap di angkasa.
Sekali dia bergerak, tidak adala lagi purnama.

Aduhai, mengapa sunset menakjubkan?
Karena matahari menggelayut malas di kaki langit.
Sekali dia melaju, hanya tersisa gelap dan debur ombak.

Mengapa pagi menentramkan dari dingin?
Karena kabut mengambang di sekitarnya.
Sekali dia menguap, tidak ada lagi pagi

Di dunia ini.
Duhai, ada banyak sekali momen-momen terbaik.
Meski singkat, sekejap
Yang jika belum tejadi langkah berikutnya
Maka dia akan selalu spesial.

Sama dengan kesibukkan kita, perasaan kita.


Menyimpan perasaan itu indah.
Karena penuh misteri dan menduga
Sekali dia tersampaikan tidak ada lagi menyimpan.

Menunggu seseorang itu elok.
Karena kita terus setia berdiri
Sekali dia datang, tak ada lagi menunggu.

Bersabar itu sungguh menakjubkan.
Karena kita terus berharap dan berdoa.
Sekali masanya tiba, tiada lagi kecuali jawaban dan kepastian.
Sungguh tidak akan keliru bagi orang-orang yang paham.

Wahai, tahukah kita mengapa embun itu indah?
Karena butir airnya tidak menetes.
Sekali dia menetes, tidak ada lagi embun.
Masa singkat yang begitu berharga.


DIAM SEBENTAR

Ssttt .. diamlah sebentar!
Cinta sejati hanya bisa mendengar justru dalam senyap.
Bukan gegap gempita kalimat yang mengaburkan
Dan kita tertipu oleh tampilannya.

Ssttt .. Ayo duduk sebejenak!
Cinta sejati hanya bisa dikenali dalam sepi.
Diperhatikan dengan seksama, dalam kesadaran diri paripurna.
Bukan berisik teriak-teriak “Aku cinta kamu!”
Tapi esok lusa kita meratap kencang-kencang sebaliknya.

Ssttt .. bisakah kita diam dulu?
Agar cinta sejati menunjukkan diri sebenarnya
Apakah yang ini, atau yang itu atau mungkin yang lain lagi
Dan kita harus menunggu dan bersabar.


SAJAK “TIDAK DITULISKAN”

Kau tahu, Kawan,
Kasih sayang tidak dibisikkan lewat kata-lata
Karena setelah kata-kata itu hilang, tiada yang tersisa.

Kasih sayang juga tidak dituliskan di atas kertas, batu bahkian besi sekalipun
Karena kertas bisa robek, batu bisa hancur, dan besi bisa berkarat, dan tiada yang tersisa.

Kasih sayang pun tidak disimbolkan dengan cincin, hadiah dan sebagainya
Karena benda di dunia tiada yang abadi, akan rusak pun binasa.

Kasih sayang selalu diungkap dengan perbuatan
Lantas perbuatan mengukir kenangan dalam waktu
Akan  terus dipeluk oleh para pencinta yang mengerti.
Tidak melanggar batas, tidak pula melampaui nafsu
Hingga kelak kemudian bertemu kembali
Dengan janji Tuhan yang sungguh pasti.

Sungguh beruntunglah mereka.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Appeciate with my pleasure.

~ VS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...