Book Nerd Traveler
Jumat, 05 Februari 2016
[Blogtour] Tiger On My Bed | Interview with Author Christian Simamora
Halo! Selamat datang di pemberhentian terakhir Blogtour Tiger On My Bed. The Booch Consultant merasa tersanjung bisa ikut serta dalam blogtour kali ini. Untuk pertama kalinya aku bekerja sama dengan Twigora untuk mengisi blogtour buku seri #VIMANASINGLES karya Christian Simamora. Blogtour kali ini mengangkat buku terbaru Christian yang berjudul ‘Tiger On My Bed’.
Tiger On My Bed adalah buku seri pertama #VIMANASINGLES yang bercerita tentang gadis-gadis Vimana. Terbit tidak lama dari novel sebelumnya ‘Meet Lame’, novel kali ini punya banyak kesan baik untuk penulis maupun pembaca.
Seperti biasa, blogtour akan di bagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama akan ada Interview with Author, disusul dengan Book Review dan acara puncak yaitu Giveaway. Mari kita awali blogtour TOMB dengan postingan Interview with Author yang akan mengupas hal-hal yang kamu belum tahu dari buku Christian Simamora.
Sebelumnya setiap host diberi jatah 5 pertanyaan untuk sesi interview. Tetapi aku melontarkan pertanyaan yang tidak biasa. Pertanyaan terakhirku itu memang sedikit menjurus dengan kelanjutan #VIMANASINGLES. Sebuah pertanyaan yang bisa membongkar jati diri buku berikutnya. Akhirnya pertanyaan terakhirku masih dibiarkan menjadi misteri oleh Bang Ino. So, aku yang harus menemukan sendiri jawaban atas rasa penasaranku di buku berikutnya.
Check this out!
Kamis, 04 Februari 2016
Wishful Wednesday - The Girl You Left Behind [7]
Sinopsis:
Prancis, 1916. Edouard LefĂ©vre, pelukis, meninggalkan istrinya yang masih muda, Sophie, untuk ikut berperang di garis depan. Ketika kota tempat tinggal mereka jatuh ke tangan Jerman, lukisan Edouard yang menggambarkan sosok Sophie menarik perhatian Kommandant Jerman yang baru. Makin lama sang Kommandant semakin terobsesi oleh lukisan itu, dan Sophie pun rela mempertaruhkan segalanya––keluarga, reputasi, dan hidupnya––demi bisa bertemu suaminya lagi.Judul: The Girl You Left Behind
Hampir seabad kemudian, Liv Halston mendapatkan lukisan Sophie dari suaminya, David, sebelum David meninggal. Ketika nilai lukisan itu terkuak, timbul konflik tentang siapa sesungguhnya pemilik sahnya––dan Liv harus menghadapi ujian berat demi mempertahankan lukisan itu.
Penulis: Jojo Moyes
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Bisa di beli di : Bukukita.com
Selamat hari bermimpi, masih suka berandai-andai kan? Nah, kali ini aku berkesempatan memposting buku harapanku.
Berawal dari kesukaan membaca review salah satu blogger pemenang Resensi Pilihan, aku mulai tertarik dengan buku ini pada pandangan pertama. Ceritanya sepertinya menarik. Itulah kesanku setelah membaca sinopsisnya. Tapi setelah membaca review beberapa blogger buku ini semakin menarik minat bacaku.
Another Version In The World
Semoga bisa tercapai deh untuk baca buku ini walau harga bukunya terbilang mahall banget :)
Resensi Buku: Merpati Tak Pernah Ingkar Janji | Sampai Maut Memisahkan Kita
Judul : Merpati Tak Pernah Ingkar Janji | Sampai Maut Memisahkan Kita
Penulis : Mira W
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2015
Rating : 3/5
Buku ini termasuk dalam edisi spesial 40 Tahun Mira W berkarya. Dalam satu buku terdapat dua cerita yang memiliki ikatan tema yang serupa.
Merpati Tak Pernah Ingkar janji bercerita tentang Maria, anak tunggal dari mantan pastor yang kini dipanggil Romo. Maria hidup berdua dengan sang ayah setelah ibunya meninggal tepat saat Maria dilahirkan. Saat hari kelahirannya Maria telah di janjikan untuk dipersembahkan kepada Tuhan sebagai bentuk penyesalan sang ayah atas masa lalunya. Janji itu bagaimana pun harus ditepati sebesar apapun rintangan yang harus dihadapi Maria nantinya.
Setelah habis cerita, kisah berlanjut pada hubungan percintaan Febrian dan Inge dalam Sampai Maut Memisahkan Kita. Kesalahan Febrian yang membuat Inge hamil di luar nikah terus membuntutinya. Beban pikiran Febrian semakin berat saat mengetahui janin yang ada di perut Inge tidak bisa di gugurkan. Jalan lain yang harus dipilih Febrian adalah dengan menikahi Inge.
Tidak lama, hubungan dua sejoli itu membuahkan seorang anak. Bukan kebahagiaan, justru kehadiran bayinya turut menambah beban pikiran Febrian. Siapa yang tidak sedih jika mendapati buah kebahagiaan mereka terlahir tidak sempurna? Cacat secara fisik dan menambah kekhawatiran kedua orang tua. Febrian justru malah meningglkan rumah tangganya yang terancam akan bercerai dan melanjutkan kuliah di negeri Paman Sam. Disana Febrian bertemu dengan wanita yang kembali membangkitkannya dari penyakitnya, Angela. Namun sejauh apapun kaki melangkah pergi ia sadar belum mampu meninggalkan isterinya dan anaknya yang cacat. Febrian kini harus memilih dari dua pilihan yang ada, kembali pada Inge atau melanjutkan jalinan cinta bersama Angela.
***
Sebagai buku pertama yang mengenalkanku pada gaya bercerita seorang Mira W, buku ini cukup mengesankan tapi tidak memesona hingga membuat hatiku terhipnotis dengan daya pikatnya.
Mira menuturkan dua jalinan kisah yang berbeda tentang kehidupan remaja dan sebuah cinta segitiga yang pelik. Sosok Maria menjadi sentral sebuah pengekangan anak atas orang tua. Febrian sebagai sebuah simbol kebebasan yang terhalang sebuah tanggung jawab. Dua tokoh ini hadir dengan atmosfer cerita yang berbeda dengan intrik masalah masing-masing yang disebabkan masa lalu mereka.
Maria, seorang anak tunggal dari mantan pastor yang terkenal ortodoks, disiplin dan kuat pendirian. Jiwa religius yang melekat padanya tidak jua luntur meski ia telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pastor. Romo, mendidik Maria seorang diri dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dengan cara yang keras dan tidak kenal ampun, ia menjauhkan Maria dari kehidupan sosial agar menjaga anaknya tetap suci saat diserahkan pada Tuhan. Namun, saat usia Maria menginjak 15 tahun Romo berubah pikiran dan memasukkan Maria kedalam sekolah khusus putri. Disana godaan dan cobaan telah menunggu gadis itu.
Walaupun saat pertama kali masuk sekolah Maria mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, Maria mampu melewati masa itu dan terbiasa dengan tingkah teman sekelasnya. Sebenarnya sedikit mengherankan awalnya aku mengira Maria akan mendapat bully yang terus berlanjut dan dikerjai gadis-gadis di sekolah, tapi Maria seketika menjadi populer setelah menjadi striker yang handal di tim volley sekolahnya.
Banyak hal-hal yang terkesan dipaksakan dan malah tidak logis terutama di awal pertemua Maria dengan Guntur. Awal ketertarikan Guntur pada Maria tidak dijelaskan, seorang pria tertarik untuk melihat kaki seorang gadis. Mungkinkah hal itu menjurus ke hal-hal yang bersifat sensual? Entahlah, tapi aku mulai tidak berandai-andai bagaimana kelanjutan kisah Maria ini.
Dari segi penokohan, penulis menggambarkan karakternya dengan sealami mungkin. Sifat remaja yang bebas, centil, ceplas-ceplos terwakili dalam teman-teman Maria. Karakter Maria tidak banyak perubahan. Ia tetap pemalu, polos dan selalu merasa rendah diri. Sifat terakhirlah yang membuat cerita ini tidak berkembang dengan baik. Tapi karena kepolosannya jugalah yang membawa gadis itu pada masalah lainnya, ia mulai meragukan pilihannya untuk menjadi biarawati selepas dari SMA. Selain itu Ia juga mulai merasakan ‘rasa’ yang tidak biasa pada Guntur. Jujur saja aku pun bingung bagaimana penulis merangkai hubungan Maria dengan Guntur, begitu juga dengan bagaimana ketertarikan diantara mereka mulai bersemi. Ah, rasanya ingin berhenti saja saat membaca kisah Maria ini. Endingnya juga tidak sesuai anganku, mengecewakan.
‘Jadi hanya seperti itu?’ tanyaku dalam hati saat kisah Maria sudah mencapai akhir halaman.
Sebagai cerita pembuka, Merpati Tak Pernah Ingkar Janji bisa dibilang tidak memuaskan untukku. Tapi pesan yang diangkat penulis sangat menggugah. Tentang bagaimana seseorang memegang prinsip dan ketaatannya pada yang Maha Kuasa. Mengingat latar yang dipakai penulis berada di Jakarta, orang-orang yang kolot dan tertutup seperti Maria dan ayahnya pasti akan mendapat pertentangan dari lingkungan sekitarnya. Cerita yang menarik untuk kamu pembaca yang sedang mencari kisah romansa lama.
Sampai Maut Memisahkan Kita, kisah kedua yang juga kaya makna dari Mira W. Kali ini menggunakan karakter utama pria bernama Febrian.Hubungan percintaannya kian rumit setelah ia sadar ia masih terikat dengan Inge dan sang anak.
Kuakui aku lebih menikmati cerita Sampai Maut Memisahkan Kita. Konfliknya lebih terasa dan penuturannya tidak terlalu bertele-tele. Alurnya pun lebih mudah dipahami. Yah, cukup memuaskan untukku. :)
Sebagai buku pertama yang mengenalkanku pada gaya bercerita seorang Mira W, buku ini cukup mengesankan tapi tidak memesona hingga membuat hatiku terhipnotis dengan daya pikatnya.
Mira menuturkan dua jalinan kisah yang berbeda tentang kehidupan remaja dan sebuah cinta segitiga yang pelik. Sosok Maria menjadi sentral sebuah pengekangan anak atas orang tua. Febrian sebagai sebuah simbol kebebasan yang terhalang sebuah tanggung jawab. Dua tokoh ini hadir dengan atmosfer cerita yang berbeda dengan intrik masalah masing-masing yang disebabkan masa lalu mereka.
Maria, seorang anak tunggal dari mantan pastor yang terkenal ortodoks, disiplin dan kuat pendirian. Jiwa religius yang melekat padanya tidak jua luntur meski ia telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pastor. Romo, mendidik Maria seorang diri dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dengan cara yang keras dan tidak kenal ampun, ia menjauhkan Maria dari kehidupan sosial agar menjaga anaknya tetap suci saat diserahkan pada Tuhan. Namun, saat usia Maria menginjak 15 tahun Romo berubah pikiran dan memasukkan Maria kedalam sekolah khusus putri. Disana godaan dan cobaan telah menunggu gadis itu.
Walaupun saat pertama kali masuk sekolah Maria mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, Maria mampu melewati masa itu dan terbiasa dengan tingkah teman sekelasnya. Sebenarnya sedikit mengherankan awalnya aku mengira Maria akan mendapat bully yang terus berlanjut dan dikerjai gadis-gadis di sekolah, tapi Maria seketika menjadi populer setelah menjadi striker yang handal di tim volley sekolahnya.
Banyak hal-hal yang terkesan dipaksakan dan malah tidak logis terutama di awal pertemua Maria dengan Guntur. Awal ketertarikan Guntur pada Maria tidak dijelaskan, seorang pria tertarik untuk melihat kaki seorang gadis. Mungkinkah hal itu menjurus ke hal-hal yang bersifat sensual? Entahlah, tapi aku mulai tidak berandai-andai bagaimana kelanjutan kisah Maria ini.
Dari segi penokohan, penulis menggambarkan karakternya dengan sealami mungkin. Sifat remaja yang bebas, centil, ceplas-ceplos terwakili dalam teman-teman Maria. Karakter Maria tidak banyak perubahan. Ia tetap pemalu, polos dan selalu merasa rendah diri. Sifat terakhirlah yang membuat cerita ini tidak berkembang dengan baik. Tapi karena kepolosannya jugalah yang membawa gadis itu pada masalah lainnya, ia mulai meragukan pilihannya untuk menjadi biarawati selepas dari SMA. Selain itu Ia juga mulai merasakan ‘rasa’ yang tidak biasa pada Guntur. Jujur saja aku pun bingung bagaimana penulis merangkai hubungan Maria dengan Guntur, begitu juga dengan bagaimana ketertarikan diantara mereka mulai bersemi. Ah, rasanya ingin berhenti saja saat membaca kisah Maria ini. Endingnya juga tidak sesuai anganku, mengecewakan.
‘Jadi hanya seperti itu?’ tanyaku dalam hati saat kisah Maria sudah mencapai akhir halaman.
Sebagai cerita pembuka, Merpati Tak Pernah Ingkar Janji bisa dibilang tidak memuaskan untukku. Tapi pesan yang diangkat penulis sangat menggugah. Tentang bagaimana seseorang memegang prinsip dan ketaatannya pada yang Maha Kuasa. Mengingat latar yang dipakai penulis berada di Jakarta, orang-orang yang kolot dan tertutup seperti Maria dan ayahnya pasti akan mendapat pertentangan dari lingkungan sekitarnya. Cerita yang menarik untuk kamu pembaca yang sedang mencari kisah romansa lama.
Sampai Maut Memisahkan Kita, kisah kedua yang juga kaya makna dari Mira W. Kali ini menggunakan karakter utama pria bernama Febrian.Hubungan percintaannya kian rumit setelah ia sadar ia masih terikat dengan Inge dan sang anak.
Kuakui aku lebih menikmati cerita Sampai Maut Memisahkan Kita. Konfliknya lebih terasa dan penuturannya tidak terlalu bertele-tele. Alurnya pun lebih mudah dipahami. Yah, cukup memuaskan untukku. :)
Minggu, 31 Januari 2016
Tell Your Father, I am Moslem - Hengki Kumayandi
Judul : Tell Your
Father, I am Moslem
Penerbit :
WahyuQolbu
Penyunting :
Mashur El-Mubarok
Penata letak :
Tri Indah Marty
Desainer sampul :
Kiki Maryana
Terbit : Januari
2014
Tebal : 259 hlm
ISBN :
979-795-812-4
Rating: 4/5
“Apakah Muslim
dan Nasrani itu tidak bisa saling mencintai, Ayah?”
Rushel menemukan seorang bayi di muka pintu gereja. Seseorang telah
meninggalkannya disana dan tak kunjung kembali untuk mengambilnya. Ia
membawanya masuk dan menamainya David Stuart. Bayi laki-laki itu tumbuh menjadi
seorang pria yang tampan dan disenangi teman-teman disekolahnya. David juga
mendapat kasih sayang yang cukup dari Pastor Rushel dan biarawati yang tinggal
di gereja.
Sampai tiba suatu hari ia bertemu dengan seorang murid baru sekolahnya,
seorang gadis muslim yang sangat jelita. Gadis itu begitu memikat hati dan hanya
dengan melihatnya David merasakan hal yang berbeda pada gadis itu, pada
perasaannya. David menyadari selama ini ia tidak merasakan kebahagiaan yang
sesungguhnya. Maryam, gadis itu yang mampu membuatnya bahagia dan jatuh cinta
pada pandangan pertama.
Maryam terpaksa harus mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai Duta Besar Uni
Emirat Arab untuk tinggal di Amerika. Sebenarnya Maryam tidak ingin untuk ikut,
tapi mengingat betapa kerasnya pendirian sang ayah ia merasa tidak punya
pilihan untuk menolak. Ayahnya mendidik Maryam dengan nilai-nilai islam yang
kuat. Segala hal yang menyangkut urusan
anak semata wayangnya menjadi tanggung jawabnya termasuk urusan berhubungan
dengan lawan jenis. Salah berbuat sedikit akan menimbulkan dosa. Tapi apakah
sang ayah akan terus mengekang sang anak? Ayah Maryam tidak pernah berpikir bagaimana
jadinya jika Maryam akan jatuh cinta pada seseorang pria yang bukan berasal
dari kaumnya.
Hari pertama bersekolah di sekolah umum di Amerika menjadi tantangan besar
untuk Maryam. Seluruh siswa di kelasnya menuduh dirinya sebagai teroris dan
dianggap akan mengancam keamanan sekolahnya. Hanya ada satu murid pria yang mau
tetap masuk ke kelasnya dan mempercai dirinya, priaitu bernama David Stuart. Hati
Maryam seketika luluh saat mengetahui David membelanya di depan teman-temannya
dan meyakinkan bahwa Maryam bukan seorang pembawa teror. Dengan senang hati
David juga menawarinya makanan saat istirahat. Tapi Maryam tidak bisa berbuat
apapun, bahkan untuk menatap David pun ia tidak sanggup. Perasaan takut akan
bedosa yang menahan dirinya untuk tidak mengakui bahwa Maryam telah jatuh cinta
pada David.
“Aku mencintaimu. Apakah juga butuh waktu empat puluh tahun bagi Tuhanmu untuk mengampunimu jika aku mencintaimu? – David
Perasaan cinta diantara mereka tumbuh dan berkembang dengan sangat cepat.
Bahkan dengan keislaman yang dimiliki Maryam tetap tidak mampu membendung
perasaan cinta yang gadis itu pendam sejak pertama kali bertemu dengan David.
Walau adanya perbedaan keyakinan yang dimiliki keduanya, Maryam tetap menerima
cinta David dan menjadi sepasang kekasih dengan syarat pria itu tidak boleh
menyentuhnya.
Hari berikutnya hubungan keduanya berjalan semakin indah. David dengan
sabar menyakinkan dirinya untuk tidak menyentuh Maryam dan senantiasa menjaga
gadis itu. Hanya satu yang mengusik hubungan keduanya yaitu keberadaan ayah
Maryam yang tidak senang dengan keberadaan David.
Tidak butuh waktu lama sang ayah dapat mengendus hubungan David dan Maryam.
Kemudian Maryam dipindahkan kesekolah muslim untuk menjauhkan hubungan
keduanya. Tapi dengan usaha keras meyakinkan sang ayah Maryam berhasil kembali
ke sekolah sebelumnya. Namun ada konsekuensi yang harus diterima keduanya,
Maryam dan David tidak akan bisa saling berbicara lagi. Tapi ternyata menahan
kerinduan itu sangat menyakitkan. Perlahan kerinduan diantara mereka semakin menyiksa. Hingga tiba suatu malam
Davidmelakukan sebuah tindakan nekad dan hal itu mengancam putusnya hubungan
David dan Maryam.
Akankah hubungan berbeda keyakinan mampu dipertahankan? Buku ini akan
membawamu pada sisi terdalam ironi cinta.
“Pujilah nama Tuhan, Nak. Berdoalah padaNya. Mintalah pada Dia agar melepaskan rasa cintamu itu pada Maryam. Dia bukan untukmu.” – Pastor Rushel
“Cinta kita mungkin salah,Maryam. Tapi Tuhan telah menumbuhkan cinta ini begitu dalam padamu. Aku akan mencoba mengerti dan menerima bahwa kita tidak bisa bersatu.” - David
***
Buku dengan konflik yang dalam untuk sebuah kisah cinta remaja, begitulah
kesan saat membaca di awal cerita. Saat pertama memutuskan membaca kisah Maryam
dan David, aku tidak menyangka buku ini akan bercerita kisah cinta beda agama
dari sudut mata remaja. Kesannya memang terlalu dipaksakan tapi buku ini
benar-benar mengkaitkan kisah antar tokohnya dengan kenyataansaat ini.
Pembaca akan di minta mengakui bahwa cinta pada pandangan pertama memang
benar ada. Si penulis menyatukan kedua tokoh utama dengan cara yang indah,
lewat sebuah pemahaman bahwa tidak seharusnya menilai seseorang dari tampilan
luarnya saja. Sebuah pemahaman yang masih sulit ditemukan di masa seperti ini.
Yang aku sukai dari buku ini adalah cara penulis menyeimbangkan pandangannya
tentang kedua agama yang dianut tokoh-tokoh didalamnya. Penulis bersikap netral
dengan menunjukkan nilai-nilai dan beberapa kesamaan yang dimiliki kedua agam
tersebut. Tidak ada agama mana yang ditonjolkan, jadi buku ini bisa dibaca oleh
kalangan manapun tanpa menyinggung keyakinan masing-masing.
Hal lainnya yang membuat buku ini sangat menarik untuk dibaca adalah
perjuangan kedua tokoh utama dalam mempertahankan hubungan mereka. Mulai dari
penentangan dari pihak keluarga dan ketidak pastian hubungan keduanya di
usianya yang masih remaja.
Fokus cerita dalam buku ini adalah pada konflik perasaan Maryam dan David
dalam menjalani hubungan mereka dan peran orang-orang terdekat dalam lika-liku
hubungan keduanya. Tokoh yang sangat berpengaruh dalam cerita ini adalah ayah
dari Maryam. Ayah Maryam yang sangat otoriter dan menjunjung tinggi agama
mendidik Maryam dengan pengekangan. Saat mengetahui Maryam menjalin hubungan
dengan David ia segera menjodohkan Maryam dengan Khaled.
“Jika kau berkenan menjodohkanku dengan Maryam, tumbuhkanlah benih cinta di hati Maryam untukku, yang tidak melebihkan cintanya padaMu. Tapi jika dia bukan untukku, buat hatiku ikhlas untuk melepaskannya” – Khaled
Tapi sesempurna apapun tokoh yang bermain di dalamnya, buku ini masih perlu
mendapat koreksi yang penting.
Buku ini lebih dominan memakai narasi untuk menceritakan isinya. Pemilihan
diksi untuk dialog maupun narasi didalamnya sering kali terasa tidak pas. Hal
itu malah membuat sentuhan rasa sedih buku ini kurang maksimal. Kesan yang
didapat saat membaca buku ini menjelang pertengahan buku mulai terasa
membosankan karena kedua tokoh utama lebih banyak melakukan telling ketimbang
showing. Aku juga merasakan upaya
penulis membangun kedekatan emosional diantara tokoh utamanya sangat kurang.
Usaha si penulis untuk membangun kesan sedih dan tertekan dalam cerita
sudah seharusnya di acungi jempol. Tapi bagaimana jika pembaca terus disuguhi
alur cerita yang melulu berisi ironi? Tentu pembaca akan terganggu bahkan
mungkin bosan. Perlu lebih diperhatikan bagaimana cara mempermainkan emosi
pembaca dengan tidak melulu bercerita tentang kesedihan.
Jujur saja menemukan buku dengan tema mengangkat cinta beda agama dan
menggunakan sudut pandang netral dalam bercerita sangat sulit. Buku yang penuh
nilai toleransi dan arti sebuah keluarga dalam mengajarkan anak sebuah prinsip
keterbukaan. Tidak selamanya orang tua adalah benar dan sistem mengekang anak
adalah cara yang salah jika itu dimaksudkan untuk mendidik seorang anak.
Banyak sekali pengetahuan baru yang bisa di dapatkan dari buku ini. Selain
itu kutipan dalam buku ini cukup menyindir kehidupan beragama masa modern dan
bisa menjadi bahan introspeksi diri. Bagaimana seseorang bisa salah mengartikan
sebuah agama hingga akhirnya menciptakan diskriminasi bahkan memicu perang.
“Tuhan dimana keadilanMu? Kenapa si Amerika ini harus jatuh cinta pada gadis berkerudung itu? Sebegitu berbedanya kah kami? Lalu kenapa kau menciptakan Amerika dan Arab, Islam dan Katolik? Apakah agar kami bermusuhan? Tidak bisakah ini dibuat sederhana? Tidak bisakah kau menyatukan kami dengan cinta? Tidak bisakah?
Untuk akhir kata, aku sangat menyukai novel ini. Kalau kalian punya kisah
cinta yang mungkin hampir sama dengan Maryam dan David, boleh kok tinggalkan
ceritamu di kolom komentar di bawah ini. :)
Aku ingin selalu mencintaimu
Meski perbedaan menghalangi kita
Meski kita tak akan bisa saling memiliki
Dan meski raga ini telah menjadi milik orang lain.
- Maryam
Rabu, 27 Januari 2016
Wishfull Wednesday - The Stolen Years [6]
Ba Yue Chang An
348 Halaman
Penerbit Haru, Januari 2016
Rp. 65.000,-
Benarkah waktu dapat mengikis perasaan cinta?
Hal terakhir yang diingat He Man adalah ia sedang berbulan madu dengan
suaminya, Xie Yu. Namun, tiba-tiba gadis itu terbangun di rumah sakit dan sudah
bercerai. He Man mengalami amnesia dan lupa akan lima tahun terakhirnya.
Ia tidak mengerti mengapa ia bisa bercerai dari Xie Yu padahal mereka
saling mencintai. Ia tidak mengerti mengapa sahabatnya sekarang malah menjadi
musuhnya. Ia tidak mengerti mengapa seakan semua orang membencinya.
Betapa inginnya aku pada novel ini x) Semoga wishlist ini bisa terwujud :D
Senin, 25 Januari 2016
The Miracle Worker - Movie Adaptation
Title : The Miracle Worker
Director : Atrhur Penn
Cast : Anne Bancroft, Patty Duke, Victor Jory, Andrew Prine, Enga Swerson
Producer : Fred Coe
Duration : 106 minutes
From book: The Story Of My Life
Minggu, 24 Januari 2016
The Lunar Chronicles : Cinder #1 - Marrisa Meyer
![]() |
Judul: The Lunar Chronicles: Cinder #1
Penulis: Marrisa Meyer
Penerbit: Spring
Penerjemah: Yudith listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Tebal: 373 hlm
Rating: 4/5
|
Available @bukupedia
Kamis, 21 Januari 2016
[Blogtour] Book Review & Giveaway: Sesaat di Keabadian oleh Mezty Mez

Judul : Sesaat di
Keabadian
Penulis : Mezty
Mez
Penerbit:
EnterMedia
Editor : Ayuning
dan Bayu Novri Lianto
Penyelaras aksara
: Emka
Penata Letak :
Biu Athea dan Maspri
Penyelaras Tata
Letak : Gita Ramayudha
Desainer sampul :
Maspri
Penyelaras Desain
sampul: Gita Ramayudha
Tahun terbit:
2015
Harga : Rp. 42.000
Minggu, 17 Januari 2016
Resensi Buku Meet Lame oleh Christian Simamora
Judul : Meet Lame
Penulis : Christian Simamora
Penerbit : Twigora
Editor : Prisca Primasari
Designer sampul : Dwi Anissa
Penata letak : Gita Mariana
Ilustrasi isi : Mailoor
Tahun terbit : November 2015
- Available @bukupediaSomehow, suara hatiku menasihatiku tentang betapa pentingnya memaafkan supaya bisa move on dari cinta lama. Saat masih emosi ketika berbicara empat mata dengan Dani membuktikan aku belum benar-benar bisa melupakan cowok itu.
Rabu, 13 Januari 2016
[Master Post] Indonesian Romance Reading Challenge 2016
Halo!
Sudah setahun aku tidak mengupdate postingan di blog ini. Memasuki tahun baru aku punya daftar kegiatan dan target yang mesti dicapai ditahun ini. Tapi disela kesibukan di awal tahun, aku masih online di media sosial twitter. Saking seringnya aku mendapati beberapa orang sibuk mengawali tahun mereka dengan ikutan Reading Challenge.
Langganan:
Postingan (Atom)














