Selasa, 12 April 2016

A Letter From Secret Admirer


Dear, Mr. Brown
Aku sudah lama menantikan perjumpaan kita, Mr Brown. Melihatmu di beragam acara talkshow memberikan sedikit gambaran bagaimana reaksimu nanti saat akhirnya kita bertemu. Apa kabar New York saat ini?
Kota kecil itu cukup mengejutkan dengan rahasia Dante disalah satu sudutnya. Dan lagi-lagi kau mengangkat kisah masa lalu menjadi sebuah cerita hebat.
Kau makin terlihat tua saja, dengan rambut yang menguning dan kening yang lebar. Itukah hasil menulismu selama ini? Memeras otakmu untuk ide-ide menakjubkan. Tapi biarlah, aku mengagumi isi otak kecilmu itu, tanpanya aku tidak akan pernah mengenal orang aneh seperti Robert Langdon. Sudah sampai dimana pria itu sekarang, seingatku dia masih di Italia dengan hiruk pikuk kota kelahiran ilmuwan hebat. Tapi itu tiga tahun lalu, saat bukumu dikoyak habis-habisan oleh para kritkus. Publik agaknya cukup kecewa dengan tulisanmu yang terakhir.
Sooner or later we’ve all got to let go of our past.
Membaca tulisanmu membuatku yakin kalau kau orang yang cerdas. Mulai dari caramu membuka cerita saja sudah menggoda. Cerita dibagi menjadi kepingan puzzle, mengurainya perlahan-lahan dan blam! Hanya dari sebuah prolog kau membuat pembaca penasaran. Saat si albino mengacungkan moncong pistolnya dan Sauniere tejebak dalam rahasia kuno yang diincar si pembunuh, aku dibuat penasaran dengan akar masalah yang kau coba ungkap dalam The Da Vinci Code. Terus dan terus, aku dibuat tidak bisa berhenti membaca bukumu yang satu ini.
Angel and Demons yang dianggap sebagai prequel tidak kalah menggoda. Kota Vatikan, pusat agama Katolik yang kolot dengan jutaan rahasia terkubur di dibawahnya menjadi kota favoritku. Hanya dengan membaca bukumu saja aku bisa merasakan aku benar-benar ada disana. Aku sangat mengapresiasimu dalam mengumpulkan fakta untuk buku ini, Mr Brown. Tim-mu pasti bersusah payah mencarikanmu izin untuk masuk ke ruang arsip Vatikan. Bukan hanya itu, kau bahkan diizinkan berkelana dibawah lorong panjang yang menghubungkan salah satu bangunan penting Vatikan dengan markas Iluminati. Sebuah hak khusus yang tidak diberikan untuk masyarakat umum.

 

Setiap membaca bukumu rasanya seperti belajar sejarah dengan seorang guru kocak dan memesona. Sebut saja dosennya Robert Langdon, pria pengidap klaustrofobia yang nekad dan kadang kelewat percaya diri. Daya instingnya yang cepat, pemikirannya yang luas soal sejarah kuno seolah tidak ada habisnya. Untuk yang pembaca yang dulunya benci sekali dengan sejarah, memang harus sabar betul membaca kisah Robert. Banyak fakta, banyak plot twist bertebaran dan narasi yang dominan. Dan aku tidak pernah bosan dengan gaya bertuturmu yang seperti itu, Mr Brown. Hebat sekali.
Dari semua bukumu aku hanya melewatkan Deception Point dan Digital Fotress saja. Sisanya sudah kubabat semua kira-kira berhasil kuselesai seminggu untuk setiap buku. Kecepatan membacaku lambat sekali, tapi kau harus tahu membaca buku-bukumu itu menyenangkan tapi juga merepotkan. Terutama yang memasukkan unsur freemason dan rahasia piramida kuno The Lost Symbol. Duh, kepalaku rasanya hampir botak membaca buku yang satu itu. 

Saat di awal cerita aku sudah dibuat penasaran dengan sepotong tangan buntung yang dikirim oleh orang sinting yang berambisi memecahkan kode dari piramida. Tapi menjelang pertengahan cerita bukannya makin penasaran justru aku dibuat pusing dengan banyak fakta tentang freemason ditambah alur yang lambat. Rasanya kepalaku makin botak dicekoki banyak hal baru dibuku ini. Sebenarnya fakta sejarah ini sangat informatif, mungkin memang daya pikirku saja yang cetek tidak bisa mengejar kecepatan pikiranmu.
 
Harus kuakui Mr Brown, isi pikiranmu kadang membuatku mengerutkan kening tapi juga mengangguk takjub. Manusia hanya makhluk kecil yang mencoba membenarkan isi pikirannya. Berusaha membuktikan hal-hal yang tidak sanggup digapai logika dengan pendekatan ilmiah. Dari mana jagad raya terbentuk? Asal muasal manusia dan ambisi dalam diri. Aku mulai berpikir apakah kau orang yang religius atau Robert adalah refleksi dari dirimu?
Sudah tiga tahun dan kau belum menampakkan batang hidungmu lagi. Kemana saja kau Mr. Brown? Dunia menantikan karya sensaionalmu, si ahli simbologi yang tidak memihak aliran manapun dan terus merasa dirinya muda tiap kali melirik jam tangan Mickey miliknya. Well, aku suka selera fashionmu :D  Bersemangatlah kawan, jangan biarkan kami menunggu lama karya terbarumu.

At least, aku juga menunggu Inferno dalam bentuk film dirilis. Buku-bukumu memang pantas diangkat jadi film. Aku tidak kecewa dengan dua novel sebelumnya yang sudah di filmkan. Malah makin nggak sabar wujud inferno dalam bentuk film :)

Warm Regard,

Your Secret Admirer

4 komentar:

  1. Dan Brown juga salah satu penulis yang bertanggung jawab membuat saya suka baca buku fiksi, terutama karena buku-bukunya kaya sekali dengan data-data sejarah (saya memang penyuka buku-buku sejarah, tapi bukan berarti pengumpul kenangan bersama mantan loh)sehingga pas sekali saya pertama kali bertemu Angel and Demon yang saya baca sampai dua kali itu. Hanya Lost Symbol yang belum saya baca, dan suratmu ini membuat saya semakin menjauhi buku itu hahaha. Toss cantik yuk buat penulis favorit kita ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakak penulis kita yg satu ini sepertinya playboy ,, bukan pengumpul tapi pengenang masa lalu ya kan kak. Favorit and always

      Hapus
  2. Pengetahuanku tentang penulis luar masih dangkal banget, huhu. Pling mentok juga JK Rowling, Marrisa Meyer, Stephenie Meyer. Hahah
    Berkunjung juga ya ke blogku http://www.ach-bookforum.blogspot.co.id/2016/04/a-letter-for-writer-dear-risa-saraswati.html

    BalasHapus
  3. Baru baca satu buku darinya, suka sih tapi belum sampai menjadikan favorit, mungkin karena bukan genre favoritku buku yang dia tulis :D

    BalasHapus

Appeciate with my pleasure.

~ VS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...