Tampilkan postingan dengan label KPG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KPG. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 November 2025

Resensi (Review) Buku Generasi Cemas - Jonathan Haidt

Judul : Generasi Emas
Penulis : Jonathan Haidt
Penerbit : KPG
Cetakan pertama, 2025
Tebal : 417 hlm

Kapan kamu terakhir melihat anak-anak kecil bermain tanpa menggemgam ponsel? Membaca Generasi Cemas justru membuatku merinding bahwa kita telah banyak kehilangan masa kecil penuh kesenangan lalu menukarnya untuk sebuah 'kemajuan'.

Teringat masa kecil saat ibuku sulit 'menyeretku' pulang karena keasikan main bersama teman-teman sampai sore. Ditulis oleh psikolog sosial, Jonathan Haidt membuka mata pembaca bahwa anak-anak kini lebih sulit untuk lepas dari smart phone mereka ketimbang memisahkan anak-anak untuk pulang kerumah akibat asik main diluar. Ia juga mengupas habis-habisan pengaruh smartphone terhadap  perubahan pola perilaku pra-remaja dan remaja awal khususnya Gen Z yang selalu diliputi kecemasan dan mudah frustrasi.

Penulis menyoroti bagaimana peran orangtua justru overproteksi terhadap anak di dunia nyata, namun kurang pengawasan pada anak di media sosial. Orangtua yang didominasi boomers sangat mudah memberikan anak mereka smarthphone sebelum usia yang cukup, dibuku ini kedewasaan seorang anak minimum pada usia 16 tahun. 

Sabtu, 01 Oktober 2016

Review Wonderful Life by Amalia Prabowo


Judul: Wonderful Life
Penulis: Amalia Prabowo
Penerbit: POP (KPG)
Jumlah Halaman: 177 halaman
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 9789799108548
Genre: Parenting, Story-Pic, Non Fiksi
Format: Available on iJak


Bagaimana kisah seorang wanita karir yang menjabat sebagai CEO di sebuah perusahaan advertising ternama yang harus menerima kenyataan masa depan anak sulungnya tidak akan sesuai dengan apa yang ia harapkan?

Wanita itu adalah Amalia Prabowo, seorang wanita karir keturunan ningrat yang hidup di bawah ambisi dan kepercayaan. Karirnya yang telah dianggap sukses ternyata tidak diiringi dengan kehidupan rumah tangganya. Setelah gagal menjalani rumah tangga selama 2 kali berturut-turut, Amalia diuji dengan divonisnya Aqil-putra sulungnya mengidap disleksia. Kesulitan anaknya dalam membaca dan menulis membuat Aqil tertinggal dari anak seumurannya. Sulit berbicara dan berhitung membuat akademik Aqil berjalan di tempat. Amalia sebagai orangtua tunggal tidak bisa menerima hal itu dan justru menyalahkan anaknya yang dianggapnya tidak mau berusaha. Tanpa sadar Amalia telah menciptakan jurang diantara dirinya dengan Aqil.

Perlahan pemikiranAmalia terbuka terutama salah seorang psikolog membuka pikirannya tentang menghadapi anak berkebutuhan khusus. Petuah dan nasihat semakin menguatkan Amalia bahwa ia perlu berdamai dengan sang pemilik kehidupan dan berdamai dengan Aqil.

Saya sangat terharu ketika membaca buku ini. Jujur saya berhasil dibawa ke dalam kehidupan Amalia yang harus meniti segalanya dari nol lalu tidak sampai disitu Amalia menghadapi rangkaian cobaan yang boleh jadi orang awam lainnya tidak akan mampu sekuat dirinya.

Amalia dalam bukunya berhasil menunjukkan bahwa kita bukan siapa-siapa, terlalu kecil untuk menyombongkan diri dan kadang lupa pada apa yang diinginkan Tuhan dari keberadaan kita. Aqil sebagai sebuah titipan dan karunia yang patut untuk disyukuri tanpa melihat kekurangannya. Masih banyak nilai kehidupan lainnya yang ingin dibagi Amalia di dalam buku ini yang tentu harus dibaca bagi semua orang tua didunia.

Selasa, 06 September 2016

Resensi Bokis: Kisah Gelap Dunia Seleb karya Maman Suherman


Judul: Bokis: Kisah Gelap Dunia Seleb
Penulis: Maman Suherman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Genre: Non-fiksi, entertainment
Bahasa: Indonesia
Terbit: 14 September 2012
Tebal: 124 halaman
Cover: Paperback
Ukuran: 13.5 cm x 20 cm

Sinopsis

Dengan empati dan rasa humornya, Maman Suherman, seorang jurnalis infotainment kawakan, menyingkap kisah mencengangkan, menyedihkan, bahkan cerita konyol di balik gegap gempita panggung hiburan Indonesia. Siapa sangka orangtua menghalalkan segala cara demi popularitas anaknya? Anda yakin suara penyanyi yang Anda dengar adalah suaranya sendiri? Bagaimana pula seorang jurnalis menghadapi rayuan manis narasumbernya? Dalam 33 artikel yang ditulisnya dengan gaya santai dan kocak di buku ini, kita akan diajak menatap apa yang selama ini tidak kita lihat dan menyimak apa yang belum pernah kita dengar.
“Di balik gemerlap dunia infotainment tersembunyi aneka kisah menyesakkan calon artis dan keluarganya. Di tengah industri hiburan media yang masif, terjadi persekongkolan agen artis, biro iklan, pejabat, politisi, sang artis, termasuk wartawan. Semuanya dikupas cerdas oleh Maman Suherman.”
Eko Maryadi, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI)
“Buku ini bisa dinikmati dalam berbagai perspektif. Bokis bisa menghibur karena penuh dengan anekdot lucu dan persepsi orisinal, tapi juga bisa menambah ilmu, karena tanpa disadari pembaca, Maman Suherman tidak per nah lepas dari intelektualitasnya sebagai sarjana sosial. Dalam karier yang penuh warna, kedua sifat Maman Suherman selalu bersandingan. Entertaining, analytical.”
Wimar Witoelar
“Menghadapi seorang ibu yang menjual anaknya agar menjadi selebriti mungkin hal biasa bagi sebagian orang dalam dunia hiburan. Namun, bagaimana Maman mengendalikan diri untuk tidak mudah menjual profesionalismenya belum tentu dapat dilakukan jurnalis media hiburan lainnya. Begitu juga ketika Maman memutuskan untuk tidak menggunakan video aborsi artis muda sebagai bahan berita. Keputusan yang menurut saya sangat meng harukan.”
Ezki Suyanto, Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia
“… terbius dan tercengang….”
Donna Agnesia, Artis
“Beranikah kita menatap cermin ini?”
Sakdiyah Ma’ruf, Feminis

Resensi

Bokis: Kisah Gelap Dunia Seleb adalah buku karya kang Maman yang berhasil diselesaikan dalam 24 jam. Padahal sebelumnya saya sudah memantapkan diri membaca Re tapi akhirnya buku ini yang lebih dulu masuk garis finish. 

Kisah Gelap Dunia Seleb berisi kumpulan kisah kang Maman selama menjalani profesi jurnalis. Tidak hanya menceritakan tentang dirinya, tapi teman-teman  satu rekannya juga ikut diceribagtakan. Mereka yang menyebut dirinya kuli tinta dan kerap kali melalui berbagai rintangan selama menjadi jurnalis. Di buku inilah manis pahit kisah mereka dilukiskan dengan tinta oleh kang Maman jadi buku Kisah Gelap Dunia Seleb. 

Bukunya terbilang tipis tidak lebih dari 124 halaman, Berisi kumpulan bab yang menceritakan tiap pengalaman dan suka duka profesi jurnalis. Ada kisah kang Maman yang harus meilput berbagai narasumber, mulai dari publik figur berbagai kalangan, bintang film panas, pejabat hingga penelusurannya pada dunia hiburan yang gelap diceritakan di buku ini. Pengalaman kang Maman pergi haji entah dengan sebutannya yang aneh bin ajaib juga ikut diselipkan. 

Profesi jurnalis adalah pekerjaan yang mulia. Sangat membanggakan dan hal itu bisa kurasakan saat membaca buku ini. Kemuliaan hatinya untuk memegang jabatan yang bermulai dari jurnalis kampus hingga sampai tingkat yang cukup dipandang sebagai direktur pelaksana sangat pantas dihargai. Perjuangannya ditulisnya sedikit demi sedikit dibuku ini. Dan makin kuteruskan membacaku makin kuat niatku untuk bisa menjadi seorang jurnalis.

Aku suka sekali dengan gaya menulis kang Mamaak terten yang singkat, padat, luwes dan kadang konyol. Aku dibuat terheran-heran dengan isi pikiran jurnalis berkepala plontos ini. Kadang bisa jadi penuh tawa, menggores hati, menyentuh kalbu dan juga konyol terutama yang menyangkut sensualitas wanita dan pria. Gaya berceritanya tidak tertebak dan tidak mengada-ada. Dalam pikiranku, polos sekali kang Maman ini. hahaha. Mungkin hal itulah yang membuatnya dicintai dan terus bertahan dengan profesinya sebagai kuli tinta.

Membaca Kisah Gelap Dunia Seleb selain mengharukan, miris tapi juga membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Aku tidak tahu sepolos apa kang Maman di masa mudanya, tapi tiap kali ia menuliskan hal-hal yang melibatkannya dengan selebriti sexy sebutlah begitu aku tidak bisa menahan tawa. Buku ini membuka mataku tentang kehidupan dunia seleb yang ternyata memang gelap. Ada harga yang mahal yang harus dibayar para publik figur untuk bisa masuk ke dunia gelap ini. 

Jangan lupakan dengan ilustrasi kecil-kecilan yang diselipkan di tiap cerita di buku ini. Walaupun ala kadarnya tapi tetap tidak mengurangi esensi cerita didalamnya. 

Yang mengaku ingin jadi jurnalis, silakan baca buku ini :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...