Rabu, 08 Juni 2016

Review Girls in the Dark by Akiyoshi Rikako



Judul : Girls in the Dark
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerjemah : Andry Setiawan
Penyunting : Nona Aubree
Proofreader : Dini Novita Sari
Ilustrator : @teguhra
Penerbit : Haru
Terbit : Cetakan pertama, Mei 2014
Tebal : 279 hlm 

Rating : 3/5 
Available @bukupedia
 
“Klub ini seperti sebuah klub sosial. Siapa pun yang bisa memasuki statusnya akan terangkat.” – hlm 33

Setelah beberapa tahun ditutup karena kekurangan anggota, kegiatan klub sastra Sekolah Katolik Putri Santa Maria di buka kembali. Klub tersebut dibuka kembali atas permintaan anak dari salah satu pengelola penting di sekolah bernama Shiraisi Itsumi. Awalnya tidak mudah untuk Itsumi membangun kembali klub sastra di sekolahnya. Diperlukan setidaknya satu ketua dan satu orang wakil untuk mengisi sebuah klub. Lalu terpilihlah Itsumi sebagai ketua dan sahabatnya Sumikawa Sayuri sebagai wakil ketua.

Tempat berkumpul kegiatan klub sastra SMA Putri Santa Maria berada di sebuah bangunan bekas biara yang berada di luar satu kompleks sekolah. Atas ide Itsumi biara tua itu di rombak menjadi sebuah kastel mewah untuk kegiatan klub sastra. Istumi menyebutnya sebagai salon yang berarti sebuah ruangan tempat berkumpul untuk membicarakan hal-hal tentang sastra maupun akademik.

Bangunan itu dirancang senyaman mungkin, dilengkapi dengan koleksi buku langka, interior mahal, dapur modern dan segala macam kemewahan didalamnya.Semua itu dibuat atas permintaan Itsumi pada ayahnya. Dalam waktu yang singkat klub sastra tumbuh menjadi sebuah klub sosial elit di sekolah. Hanya orang-orang yang dipilih oleh Itsumi saja yang bisa bergabung dalam klub itu. 

Shiraisi Itsumi adalah anak satu-satunya dari pengelola Sekolah Putri Santa Maria, Tuan Shiraisi. Ia dikenal sebagai gadis yang pintar, kharismatik dan terkenal atas kesempurnaan dalam dirinya. Ia sangat dikagumi seantero Sekolah Putri Santa Maria. Mulai dari tingkatan SD sampai SMA pasti mengenal Itsumi. Setiap kali mengingat Itsumi pastitidak terlepas dari sahabatnya yang bernama Sumikawa Sayuri. Mereka sudah bersahabat sejak lama dan keberadaan Sayuri menjadi pelengkap dari sisi tidak sempurna Itsumi-begitu juga sebaliknya. 

Tiba pada suatu ketika Itsumi memutuskan untuk menambah jumlah anggota klub sastra. Hojo-sensei selaku pembimbing klub sastra merasa senang mendengar ide itu. Lalu secara acak Itsumi memilih orang-orang yang dirasanya pantas untuk bergabung.

Takaoka Shiyo, orang pertama yang dipilih untuk bergabung dengan klub sastra. Ia yang saat itu berada satu tingkat dibawah Itsumi dikenal sebagai penulis muda pendatang baru. Namanya melejit setelah serial Kimi-kage Sou tulisannya menyabet sejumlah penghargaan. Setelah Takaoka bergabung klub sastra semakin serius dengan kegiatannya.

Merasa masih belum cukup, Itsumi kembali menambah anggota baru yaitu Kominami Akane. Gadis dengan wajah layaknya boneka antik itu adalah anak dari pemilik tempat makan legendaris Restoran Kominami. Akane semakin dipandang setelah restoran milik keluarganya terbakar di suatu malam. Kemudian klub sastra semakin bersinar dengan masuknya tiga anggota baru Koga Sanoko, Nitani Mirei dan salah seorang murid internasional asal Bulgaria bernama Diana Detcheva.

Itsumi Sensei adalah gadis yang sempurna. Selain anak dari pengelola sekolah, ia memiliki paras cantik dan pemikiran yang tajam.  Hampir seluruh adik kelas di sekolah putri mengindolakannya, mulai dari SD sampai SMP. Namanya semakin terkenal saat ia membangkitkan kembali klub sastra, membuat salonsastra yang megah hingga banyak siswi yang ingin masuk kesana. Itsumi juga menjadi sosok yang sangat berpengaruh bagi anggota klub sastra lainnya.



“Iya, inilah peraturan terakhirnya. Jangan bocorkan bahan apa yang dibawa oleh siapapun, jangan juga menyelidiki satu sama lain.”



Saat tiba-tiba terdengar kabar Itsumi tewas, seluruh sekolah menjadi geger dengan kabar itu. Tubuhnya ditemukan berlumuran darah dengan sebatang bunga lili di tangannya. Tidak ada yang tahu apa penyebab kematian Itsumi. Ada yang bilang ia didorong oleh anggota klub sastra dari lantai tiga. Tapi itu baru dugaan, kematian Itsumi seperti sudah dirancang sedemikian rupa oleh si pembunuh hingga tidak ada jejak sedikitpun. Sebenarnya apa dan siapa yang berada di balik kematian Itsumi? 

Jawabannya akan terungkap setelah anggota klub sastra membacakan cerita buatanya di dalam acara yami-nabe.


Apakah kehidupan akan jadi bermakna tanpa kita sendiri yang menjadi tokoh utamanya? – hlm 226

Pegang rahasianya, rebut tempatnya berada, dan sudutkan. Menggenggam rahasia seseorang sama dengan menggenggam rahasianya. Tidak ada kepuasan yang melebihi kepuasan itu. – hlm 227


Saat menggenggam buku ini, tebakan pertama saya mengenai buku ini adalah tema horor dan misteri. Setidaknya itu yang bisa ditangkap dari sinopsisnya. Namun tebakan itu salah, buku ini berbeda dengan buku misteri lainnya. Kunci pembeda dari buku ini terlihat jelas dari cara bercerita  Akiyoshi Rikako yang menuntut.

Awal kisah dibuka dengan pertemuan yami-nabe yang sudah jadi acara rutin klub sastra. Dihadiri oleh lima anggota dan Sumikawa Sayuri sebagai ketua klub. Dalam pertemuan rutin ke enam belas itu kelima anggota diminta membacakan cerita pendek buatan mereka untuk mengenang  ketua mereka sebelumnya Shiraisi Itsumi. Ditengah badai yang diselimuti kegelapan dengan satu lilin ditangan, acara yami-nabe malam itu menjadi mencekam. Seluruh anggota menuliskan analisis mereka tentang sosok ketua mereka dan alasan di balik kematiannya.

Penulis memberikan kesempatan untuk mengetahui awal pertemuan masing-masing anggota dengan Itsumi sebagai pelaku utama. Faktanya setiap anggota memiliki keunggulan yang membuat mereka bersinar dan dikenal lingkungan sekitarnya. Setiap kelebihan yang dimiliki anggota dikumpulkan untuk satu tujuan. Dan tokoh utama di buku ini cerdik sekali memanfaatkannya.

Klub sastra seperti sebuah lakon sandiwara, dan masing-masing anggota memiliki peran tersendiri yang hebatnya hal itu baru terungkap di akhir cerita. Ada sutradara yang membantu mengarahkan, penulis skenario dan lima aktor utama yang saling menyimpan rahasia. 

Seperti sebuah naskah cerita, semakin manis cerita semakin dalam konflik yang disisipkan. Akiyoshi membuat cerita dengan plot yang rapi dan konflik yang tidak terduga. Permasalahan yang dialami masing-masing tokoh di samarkan hingga tidak terlihat. Saat mengikuti kisah yang dituturkan lima anggota klub sastra, kesemua tokoh saling menuduh satu sama lain sebagai pelaku. Tapi tidak ada celah yang diberi penulis untuk mengetahui siapa dalang sebenarnya. Pembaca dibiarkan menebak-nebak dan tidak sadar ingin membuktikan benar atau tidaknya tuduhan dari kelima anggota itu.

Sebagian besar penulis merangkai cerita menggunakan alur mundur. Kelima tokoh menceritakan awal pertemuan mereka dengan Itsumi dilanjutkan dengan keseharian mereka selama menjadi anggota klub. Dari masing-masing cerita mereka, setiap tokoh mendapati hal-hal aneh pada diri Itsumi sebelum akhirnya ia tewas dengan cara yang misterius. Lalu diakhiri dengan dugaan salah satu diantara mereka yang dianggap sebagai pembunuh sebenarnya.

Membaca buku pertama Akiyoshi yang diterbitkan penerbit Haru memberi kesan tersendiri untuk saya yang jarang membaca buku psikologi thriller. Terutama dengan rahasia-rahasia kotor yang mungkin disembunyikan oleh setiap orang. Saat memasuki dua bab terakhir saya tidak menyangka kasus ‘pembunuhan’ Itsumi akan menjadi serumit ini. Ada rasa tidak percaya saat mengetahui penulis mengakhiri cerita dengan membeberkan fakta-fakta yang tidak dimunculkan. 

Walaupun buku ini bisa dibilang menarik, buku ini juga tidak bisa dibilang luar biasa. Penulis tidak memunculkan twist selama menuliskan ceritanya. Twist justru baru dimunculkan saat sudah memasuki ending. Banyak sekali cerita yang bolong-bolong dan masing-masing tokoh tidak sepenuhnya jujur dalam menuliskan cerita mereka. Hal ini membuat pembaca bingung dan tidak punya kesempatan menebak pelaku yang sebenarnya. 

Jujur saja sesaat berada di bagian salam pembuka saya sudah bisa menebak siapa juru kunci dari cerita ini. Tapi rasanya tidak akan seru kalau terlalu awal menentukan pelakunya. Saya memutuskan menikmati buku ini tanpa menebak-nebak agar tidak kehilangan keseruannya.  Lalu setelah dua naskah berlalu saya mulai merasa ada yang aneh dengan tingkah laku si tokoh utama. Saya merasa ada jiwa yang aneh yang membentuk karakter Shiraisi Itsumi. Dan semua itu berhasil dijawab oleh penulis di akhir cerita. 

Di buku cetakan pertama ini, saya mendapati beberapa kekurangan dalam hal penulisannya. Mulai dari penggunaan tanda koma (,) setelah kata sampai di SMA di paragrafpertama halaman 32 seharusnya dihilangkan. Dan juga ketidakkonsistenan penyebutan nama depan Sumikawa Sayuri menjadi Shirakawa Sayuri. Satu hal lagi, saya sulit sekali untuk menghapal nama-nama setiap anggota klub sastra. Hal ini malah membikin saya harus membolak-balik halaman untuk memastikan nama setiap tokohnya. Mungkin karena bukan pecinta buku-buku Asia saya jadi sulit menghapalkannya semua.

Semoga di buku Akiyoshi Rikako lainnya aku akan menemukan keseruan yang lebih dari buku ini. :)


 

2 komentar:

  1. Cyaaaaaa ini buku wishlist banget euuy. Katanya buku2 thriller/horor/misteri-nya J-Lit itu bagus2 ya?

    BalasHapus
  2. Baca ,, baca ,, baca ,, Pecinta horor mesti baca pokoknya wkwkwk xD. Jlit misteri banyak yang bagus bin, kalau Jlit horor aku belum pernah baca. Nanti takut susah ke kamar mandi haha

    BalasHapus

Appeciate with my pleasure.

~ VS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...